|
B R A I N D R A I N

Oleh:
Drh. Deddy F. Kurniawan
deddyfk@yahoo.com
Operation Manager Klinik Hewan “Suropati”
Jl. Suropati No. 108, Kota Batu - Jawa Timur
Tel./Fax. (0341) 594369 Flexi (0341) 7583288
Kenapa Harus Klinik Hewan?
Sejak menjadi dokter hewan saya tergelitik dengan fenomena profesi dokter hewan di Indonesia. Saya merasakan selama di kampus sangat jarang kami termotivasi untuk menjadi seorang praktisi medis. Setelah bergaul dengan kakak kelas dan alumni, saya menemukan ternyata -dokter hewan di Indonesia- ahli di segala bidang kecuali bidangnya sendiri. Ya, bidang medis praktis yang seharusnya menjadi core business dari seorang dokter hewan.
Saya semakin tergelitik ketika dalam pidato Pengambilan Sumpah Dokter Hewan (PSDH), Dekan kami menyebutkan bahwa 70% dari dokter hewan yang di sumpah sudah bekerja. Saya pikir ini prestasi yang cukup membanggakan bagi seorang dekan ketika saat itu banyak perguruan tinggi lain bangga dengan kelulusan namun harus menelan pahitnya kenyataan bahwa lulusan mereka hanya akan menjadi pengangguran. Sedangkan kami dokter hewan, kami perlu bangga bahwa teman-teman kami sudah mendapat pekerjaan ketika lulus. Namun sebagian besarnya tidak bekerja di bidang medis veteriner, ironis. Sebagian besar dari kami harus menerima kenyataan bahwa kami harus menjadi seorang sales obat dan alat peternakan, bekerja di Bank menjadi seorang administrator dan sebagainya.
Saya tidak ingin menvonis apa alasan teman-teman saya, tapi mungkin karena alasan klasik, pekerjaan yang dipilih lebih menjanjikan dan menjamin masa depan mereka. Berarti berprofesi di bidang praktis medis tidak menjanjikan dong…terus buat apa meluluskan dokter hewan kalo ternyata bidang yang menjadi garapannya tidak menjanjikan dan menjamin masa depan…?
Sejak lulus saya diberikan kesempatan untuk berprofesi sebagai praktisi medis di bidang sapi perah. Profesi itu akhirnya membawa saya berkesempatan untuk tinggal dan bekerja di New Zealand pada musim semi setiap tahunnya sejak 4 tahun terakhir. Bagi anda yang pernah berkunjung dan mengikuti kiprah dokter hewan di New Zealand (pernah ditulis pada edisi IV, V dan VI) anda akan sepakat dengan saya bahwa menjadi dokter hewan yang berprofesi di bidang medis veteriner adalah profesi yang membanggakan.

Suasana operasi pengangkatan ovarium dan uterus (ovariohisterektomi) pada seekor
singa betina di Rainbow Spring Park, Rotorua, New Zealand oleh para dokter hewan di
Animal Health Services, Rotorua, New Zealand. Operasi dilakukan oleh Dr. Robin
Hopkirk dan Dr. Dave Butler pada 16 Maret 2006
Anda akan berkesimpulan bahwa memang seharusnya seperti itulah posisi dokter hewan di tengah masyarakat. Namun akhirnya kita harus mengakui bahwa saat ini hal itu masih sekedar mimpi di negeri tercinta ini. Kenyataannya, dokter hewan masih lebih memilih menjadi suporter daripada pemain utama (maksud saya lebih suka menjadi supplier obat dan perlengkapan medis daripada user- nya ), faktanya kita masih tersisihkan oleh “anak didik” kita para mantri kesehatan hewan. Hebatnya, kita hanya bisa menggerutu dan berharap mukjizat segera diturunkan. Berapa banyak seminar dan sarasehan kita lakukan namun tidak kunjung memperbaiki peran profesi ini.
Apa hubungannya dengan klinik hewan? Bukankah sudah didirikan banyak Poskeswan? Bukankah sudah dibangun ber-bagai Balai Kesehatan Hewan dan Peternakan dengan fasilitas pendukungnya? Bukankah sudah ada Dinas Peternakan di masing-masing Kota/Kabupaten? Buat apa ada klinik hewan lagi?
Selama di New Zealand, saya menyempatkan diri untuk melakukan perjalanan ke beberapa kota di Pulau Utara (North Island) dan mendatangi klinik hewan yang ada di kota itu. Saya berkunjung ke Hamilton, Tauranga, Rotorua, New Plymouth, Auckland, Morinsville, Paeroa, Te Kuiti Cambridge, Taupo, Thames, Otorohanga, Taramunui, Te Awamutu dan beberapa lainnya.
Saya mengamati ada be-berapa perbedaan mendasar antara dunia dokter hewan di New Zealand dan dokter hewan di Indonesia. Pertama, saya tidak menemukan papan nama praktek dokter hewan yang dipasang di depan rumah. Dugaan saya, mungkin mereka memang tidak berpraktek secara mandiri di rumah mereka. Kedua, disetiap kota selalu bisa ditemui Animal Health Service (klinik hewan). Ketiga, di setiap klinik hewan selalu terdapat Vet Shop.
Salah satu klinik hewan yang saya kunjungi adalah Morinsville Animal Health Center yang telah berdiri sejak tahun 1950-an. Klinik ini cukup besar dan memiliki fasilitas yang lengkap, mungkin lebih lengkap dari fasilitas medis RSU Paru di Kota Batu. Ukuran tanahnya memang tidak seluas RSU namun jika anda memasukinya, anda akan merasakan semangat di dalamnya, inspirasi yang tak pernah berhenti dan improvisasi terus menerus.
Setelah saya parkir kendaraan saya, saya memasuki pintu klinik yang telah tersentuh teknologi sensor. Suasana ceria langsung akan menyambut Anda karena telah siap orang-orang dengan pakaian santai, berkaos kerah warna merah dan logo kebanggaan mereka berlalu-lalang di areal resepsionis yang sekaligus berfungsi sebagai Vet Shop (bukan Pet Shop). Ukuran Vet Shop masing-masing klinik berbeda tergantung luas lahannya, namun di Morinsville Animal Health Center, ukuran Vet Shopnya cukup luas sehingga bisa menampung banyak benda. Vet Shop adalah toko yang menjual perlengkapan medis veteriner segala hewan termasuk hewan ternak, perlengkapan penunjang dokter hewan, suplemen, pakan, obat bebas dan lain sebagainya. Anda bisa mendapatkan hampir semua kebutuhan veteriner dengan sistem swalayan. Seperti surga untuk para dokter hewan saja.
Ringkasnya ini adalah kombinasi antara Pet Shop, Mini Poultry Shop dan Veterinarian Shop, lebih mudahnya disebut saja Vet Shop. Kebetulan saya memiliki kenalan seorang dokter hewan asal Mongolia yang bekerja part time di klinik hewan tersebut dan dia membawa saya untuk berkeliling melihat bagian dalam dari klinik hewan ini.
Saya diperkenalkan dengan hampir semua personilnya kemudian melihat berbagai fasilitas yang layaknya sebuah rumah sakit di Indonesia. Laboratorium Pemeriksaan, Ruang Operasi, Ruang Rongent, Mini Café, Ruang Pertemuan, dan sebagainya sampai akhirnya saya dipertemukan dengan salah seorang manajernya. Kami berbincang-bincang cukup lama di ruangan yang khas dokter hewan, buku dan kertas dimana-mana, stetoskop diatas meja namun dalam suasana sangat akrab. Rupanya memang ini budaya Kiwi (sebutan untuk orang-orang New Zealand), mereka sangat egaliter terhadap siapapun tanpa memandang warna kulit dan asal. Dia mengatakan klinik ini sudah berumur lebih dari 50 tahun dan dia adalah generasi kedua bersama beberapa dokter hewan lainnya.
Saya menceritakan kondisi bagaimana dokter hewan di Indonesia dan bertanya bagaimana klinik hewan ini bisa menjadi besar dan mendongkrak profesi dokter hewan disana, kenapa harus ada klinik hewan?
Tulisan ini adalah buah dari sekian banyak diskusi dan pertanyaan yang diajukan penulis kepada banyak seniornya selama beberapa tahun terakhir. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa profesi ini membutuhkan wadah untukmelakukan gerakan bersama dalam bentuk aksi konkrit dibidangnya. Salah satu pilihan yang paling realistis adalah Klinik Hewan. Kenapa…? Inilah beberapa alasan kenapa kita membutuhkan klinik hewan.
Pertama, secara tidak langsung dokter hewan akan mengendalikan klien dan “memaksa” klien untuk berhubungan atau datang ke klinik hewan jika membutuhkan jasa dokter hewan karena mereka hanya akan mendapatkan jasa dokter hewan di Klinik Hewan. Nah, kedatangan klien ke klinik inilah yang menjadi pintu pembuka pintu-pintu bisnis lainnya. Seperti waralaba yang ada di sekitar kita, sebut saja McDonalds misalnya, core business-nya adalah burger, namun dia memiliki beberapa bisnis ikutan seperti bisnis souvenir (dalam paket makanannya), bisnis properti karena dia bisa memperbaiki harga jual lokasi, bisnis oportunity dengan menjual merk (franchise), bisnis pabrik roti untuk burgernya dan beberapa lainnya. Nah, klinik hewanpun bisa melakukannya sesuai bidang garapannya.
Klinik Hewan bisa memiliki bisnis peralatan dan Vet Shop, bisa menambah jasa penitipan dan rawat inap, grooming, jasa pusat informasi breeding, pemeriksaan laboratorium, kursus teknik kesehatan hewan dan peternakan serta lain sebagainya. Akhirnya klinik hewan bisa melibatkan lebih banyak orang dan sumber daya. Nah, dengan semakin banyaknya bisnis yang dilakukan klinik hewan, semakin besar pula peningkatan pendapatan klinik hewan dan secara otomatis akan semakin meningkatkan kesejahteraan dokter hewan yang terlibat di dalamnya.
Kedua, bergabungnya dokter hewan di Klinik Hewan akan memberi peluang peningkatan intensitas pertemuan yang akan menghasilkan diskusi dan keterikatan yang lebih kuat. Diskusi yang intensif akan menghasilkan ide dan inspirasi kreatif yang akan membuat dokter hewan berkembang lebih cepat. Akhirnya kapasitas keahlian dan keilmuan dokter hewan dengan semakin berkembang dan menuntut dokter hewan tersebut untuk lebih agresif dalam memuaskan kliennya. Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) adalah media advokasi dan komunikasi sedangkan Klinik Hewan adalah wadah aksinya.
Ketiga, secara tidak langsung Klinik Hewan telah melakukan client education dan menyusun kerapihan sistim kesehatan veteriner. Klinik Hewan tidak perlu membatasi jenis klien yang ditangani jika memang hal itu memungkinkan. Saat ini yang dibutuhkan adalah gerakan bersama untuk mendongkrak popularitas profesi dokter hewan. Bukan lagi jamannya mengadakan persaingan, yang harus dilakukan adalah kerjasama dan saling melengkapi. Memiliki kelapangan hati adalah langkah pertamanya. Barangkali itu sebabnya di New Zealand tidak pernah saya temui papan nama praktek pribadi.
Keempat, lebih aman dan menjamin perlindungan dokter hewan karena tindakan yang dilakukan adalah atas nama Klinik Hewan. Sehingga fungsi advokasi tidak hanya dilakukan oleh organisasi profesi (PDHI) namun juga oleh klinik hewan. Dokter hewan bisa lebih leluasa dan bebas berekspresi dalam meningkatkan kemampuannya. Namun perlu disadari bahwa ini bukan merupakan legalisasi akan bolehnya klinik memiliki dokter hewan yang tidak berkualitas. Justru merupakan tantangan bagi klinik hewan untuk memiliki dokter hewan yang berkualitas.
Kelima, Klinik Hewan akan memperkuat gerakan veteriner yang lebih strategis. Memang benar dengan berpraktek mandiri seorang dokter hewan akan populer seiring dengan bertambahnya pangalamannya, namun kebesaran itu hanya akan terbatas pada kebesaran pribadi dalam ruang lingkup yang sempit yaitu medis praktis.
Sebagai pribadi, dokter hewan tersebut sebenarnya rawan karena dia menopang dirinya sendiri dan jika terdapat sesuatu hal terjadi, maka konsekuensi akan ditanggungnya sendiri. Nah, klinik hewan akan membuat kebesaran pribadi tersebut menjadi kebesaran kolektif dan sistemik kemudian akhirnya akan semakin membuat profesi ini semakin berkibar. Salah satu tantangan terbesar dalam merealisasikan impian ini adalah kemauan dokter hewan untuk bersama-sama memahami kondisi ini, ke-legowo-an untuk bersama-sama melakukan gerakan bersama dan memiliki persepsi bersama akan paradigma baru tentang klinik hewan.
Memang tidak mudah menemukan model klinik hewan yang ideal di wilayah PDHI Jatim II, namun bukan berarti tidak mungkin membuat klinik hewan yang baik. Kuncinya adalah saling menguntungkan antara pengelola klinik hewan dan dokter hewan yang dikaryakan. Oleh karena itu salah satu hal utama yang harus diselesaikan adalah status kepemilikan klinik hewan.
Penulis mengusulkan agar klinik hewan dimiliki oleh dokter hewan baik secara individual maupun kolektif. Saat ini penulis sedang merintis sebuah klinik hewan yang memiliki status kepemilikan secara kolektif bersama beberapa dokter hewan di sekitar Kota Batu. Berikutnya adalah pola pengaturan antara Manajemen Klinik dan dokter hewan sebagai tenaga ahlinya. Pada akhirnya diharapkan klinik hewan adalah posko bagi dokter hewan disekitarnya untuk berekspresi dan menjalin kekuatan bersama. Klinik Hewan harus diposisikan sebagai media kolektif untuk dokter hewan dan dokter hewan harus memposisikan Klinik Hewan sebagai rumah keduanya. Klinik Hewan bukanlah pesaing bagi dokter hewan apalagi musuh. Bahkan sebaliknya, Klinik Hewan adalah kendaraan bagi dokter hewan.
Nah, kenapa tidak segera kita mulai? Bagaimanapun gelar dokter hewan sudah ada di depan nama kita masing-masing. Kenapa tidak kita segera melakukan gerakan agresif yang kolektif untuk membuat profesi ini menjadi semakin terhormat...?
|