|
P O J O K

Oleh:
Drh. Heru S. Prabowo
herusp@greenfields.austasia.biz
Kekuatan Niat
Anak saya, Yasmin, 5,5 tahun mempunyai kebiasaan jelek tidak bisa bangun pagi. Sekolah TK-nya dimulai jam 7:00. Berhubung Yasmin ikut kelas membaca pagi maka jam 6:30 sudah harus berada di sekolah. Setiap pagi dia diantar jemput oleh abang becak bersama dengan teman-temannya yang lain. Pak Buang sudah kring-kring di depan rumah jam 6:15.
Karena jam 6:15 harus sudah siap berangkat maka dia sudah harus mulai persiapan jam 5:30. Masalahnya, saat bangun pagi jam 5:30 susahnya minta ampun. Alarm jam wekernya sudah bunyi jam 5 pagi. Tapi begitu bunyi, dia bangun, mematikan alarm dan tidur lagi. Beberapa cara kita lakukan untuk membuat dia bangun pagi mulai dari cara yang halus sampai cara yang mengandung sedikit unsur pemaksaan. Namun hasilnya tidak memuaskan.
Setelah beberapa cara tidak berhasil, saya mencoba satu cara yang sama sekali baru dan belum pernah saya coba sebelumnya. Pendekatan ini terinspirasi setelah saya membaca buku Awaken the Giant Within karya Anthony Robbins.
Malam sebelum tidur, setelah membacakan cerita pengantar tidur saya mulai melakukan pendekatan dengan cara yang lain tersebut. Saya menanyakan apakah Yasmin besok pagi bisa bangun pagi jam 5 setelah alarm jam wekernya berbunyi. Dia jawab seperti biasa bahwa dia bisa bangun pagi.
Setelah itu saya meningkatkan level komitmen yang sudah kami buat dengan menambahkan sanksi bila komitmen dilanggar. Saya tanyakan apakah dia bersedia menerima sanksi bila melanggar komitmen. Dia jawab bersedia. Kemudian kita diskusikan sanksi apa yang akan diterima bila melanggar komitmen. Saya usulkan “Bagaimana kalau disiram air dingin bila jam 5 pagi tidak bangun?”. Dia bersedia, mungkin dikira hanya main-main.
Bila sanksi yang disepakati tersebut hanya sebatas kata-kata saja -meminjam istilah gaul sekarang- chemistry-nya kurang. Saya keluar kamar Yasmin menuju kamar mandi, membawa timba berisi air setengah penuh dan gayung. Saya bawa masuk ke kamar Yasmin dan saya letakkan disamping tempat tidurnya. Dia bertanya buat apa air di dalam timba tersebut. Saya jawab buat menyiram Yasmin besok pagi kalau saat alarm jam weker berbunyi masih belum bangun. Meskipun ada sedikit protes namun saya ingatkan komitmen yang telah kita buat. Saya tinggal Yasmin tidur dikamarnya, mungkin dengan pertanyaan berkecamuk di pikirannya.
Besok paginya, saya sengaja bangun lebih lambat dari biasanya untuk menunggu hasil komitmen kami semalam.
Jam 5 pagi. Kriiiiiiing, weker Yasmin berbunyi. Namun bunyinya tidak begitu lama karena dimatikan. Beberapa saat kemudian terdengan pintu kamar dibuka. Yasmin kemudian membuka kamar saya sambil berkata ”Selamat pagi ayah, selamat pagi mimi!” Ternyata pendekatan saya semalam berhasil. Ini yang mungkin oleh Anthony Robbins disebut pengkondisian neuro asosiatif (Neuro Associative Conditioning = NAC). Intinya adalah menghubungkan suatu keberhasilan dengan kenikmatan dan suatu kegagalan dengan kepedihan.
Otak kita, pikiran kita adalah pusat dari segala perintah perbuatan kita. Kunci dari keberhasilan adalah secara terus menerus mengkondisikan pikiran kita pada keberhasilan tersebut dengan cara menghubung-hubungkan keberhasilan tersebut dengan sensasi kenikmatan yang akan kita terima bila kita berhasil. Otak kita akan memberi perintah kepada tubuh terhadap apa yang menjadi fokus dari pikiran kita. Bila kita terus menerus mengasosiasikan keberhasilan dengan kenikmatan-kenikmatan yang akan kita dapatkan, maka kita telah membawa fokus pikiran kita kepada keberhasilan tersebut. Bila fokus pikiran kita pada keberhasilan tersebut, otak akan memberi perintah tubuh kita untuk melakukan sesuatu yang mengarah pada keberhasilan tersebut.
Demikian sebaliknya, bila fokus pikiran kita adalah pada kepedihan yang akan kita dapatkan bila kita gagal melakukan sesuatu seperti contoh Yasmin diawal tulisan ini, maka fokus pikiran Yasmin dipenuhi oleh sensasi kepedihan yaitu disiram air dingin jam 5 pagi bila dia gagal bangun jam 5 pagi. Fokus pikiran ini yang menggerakkan tubuhnya untuk bangun pagi begitu mendengar alarm weker berbunyi agar kepedihan yang dipikirkannya semalam tidak terjadi.
|