|
S H A R E

Oleh:
Drh. Luki K. Wardhani
isaw_lkusuma@yahoo.com
Flu Burung: Siapa Disalahkan?
Indonesia memiliki jumlah penduduk 220 juta. Tercatat pada tahun 2006, sebanyak 39,05 juta (17,75%) merupakan penduduk miskin dan sebagian besar 63,4% berada di pedesaan.
Merebaknya kasus gizi buruk (malnutrisi) di Indonesia, maka diperlukan program penyediaan sumber protein hewani yang murah, mudah tersedia, terjangkau (harga), bergizi tinggi untuk kapasitas rumah tangga. Family Poultry merupakan program organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization / FAO) untuk mendukung tersedianya sumber protein hewani sebagai sumber pendapatan dan pengentasan kemiskinan, sehingga program tersebut dipertimbangkan sebagai sebuah solusi mengatasi terjadinya malnutrisi.
Peternakan Indonesia
Jumlah peternak ayam skala kecil dan besar di Indonesia diperkirakan 80.000 orang dengan rata-rata kepemilikan ayam 5.000 – 20.000 ekor. Tenaga kerja yang diserap di Industri perunggasan sebesar 2,5 juta peternak dan sekitar 30 juta rumah tangga memelihara ayam ras. Setiap hari dihasilkan 1,3 juta ton telur dari produksi 80% jumlah populasi ayam. Dan daging ayam diproduksi sebanyak 1-1,2 milyar ekor per tahun. Industri perunggasan berperan besar dalam mensuplai penyediaan sumber protein hewani terbesar. Kebutuhan daging di Indonesia dipenuhi dari daging unggas sekitar 60% dari 1,2 milyar ekor ayam pedaging yang diproduksi setiap tahunnya.
Wabah Flu Burung di Indonesia
Sejak Agustus 2003, wabah Avian Influenza telah menyebar ke 9 propinsi: 51 kabupaten/kotamadya. Jumlah kematian unggas akibat serangan AI dari Agustus 2003 – November 2005, diperkirakan mencapai 10,45 juta ekor.
Kerugian akibat Flu Burung:
- Ditemukan pasien yang tertular Avian Influenza (H5N1) sebanyak 270 kasus dan
61% diantaranya meninggal.
- Merosotnya permintaan daging ayam sampai 60% karena masyarakat takut
makan daging ayam.
- Tiga bulan pertama sejak tahun 2007 Indonesia mengalami kerugian
sampai 1 Triliun Rupiah.
- Harga daging ayam yang semakin menurun sehingga peternak banyak yang menutup usaha
ternaknya karena tidak sanggup memenuhi biaya pakan (60% dari biaya pemeliharaan ayam).
Berdasarkan SK No 17/ KPTs/ PD 04/02.04 dan SK No 46/ PD 640 / F/ 08.05, pemerintah menetapkan 9 strategi untuk menanggulangi Avian Influenza:
- Biosecurity
- Vaksinasi
- Pengurangan jumlah ternak
- Kontrol transportasi unggas
- Pengawasan
- Sosialisasi
- Pembasmian unggas terinfeksi
- Restocking
- Monitoring dan evaluasi pemeliharaan unggas
Flu Burung: Bagaimana datangnya?
Terdapat anggapan bahwa burung liar menjadi penyebab utama atas penyebaran virus flu burung di dunia. Namun, hasil laporan DEFRA (Department of Food and Rural Enviroment, 2007) menjelaskan bahwa sejak Agustus 2006 lebih dari 4000 ekor burung diperiksa dan hanya ditemukan 0,4% yang menginfeksi avian influenza dan semuanya memiliki strain low pathogenic.
Menurut analisa Compassion in World Farming (CIWF), bahwa terdapat bukti yang kuat bahwa peternakan ayam secara intensif, dimana sistem peternakan yang memelihara ayam dengan jumlah berlebih sehingga menyebabkan stess kronis pada ayam. Kondisi yang demikian menyebabkan system kekebalam tubuh ayam menurun. Dari system peternakan ayam tersebut juga ditemukan munculnya strain virus Avian Influenza yang ganas.
Beberapa ahli menyebutkan bahwa transportasi unggas menjadi sumber utama penyebaran virus. Virus mulai ditularkan dari unggas segala media asal peternakan ayam yang terinfeksi oleh penyakit. Virulensi virus AI masih berlangsung dan siap untuk menyebar dan akan menyerang pada kawanan ternak yang mudah terinfeksi.
Pencegahan lebih baik dari pada pengobatan
Tingginya virulensi flu burung yang menyebabkan mengganasnya penyakit dapat ditanggulangi. Beberapa strategi dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya virus baru dan adanya potensial virus menjadi ganas.
Langkah yang dapat dilaku-kan adalah merevisi metode pemeliharaan unggas secara intensive dimana unggas dipelihara dalam jumlah yang besar dengan luas kandang yang kurang memadai serta rendahnya sanitasi. Kondisi tersebut menyebabkan unggas lebih peka untuk terinfeksi penyakit dan sanggup melahirkan virus baru yang lebih ganas. |