|
S H A R E

Oleh:
Drh. Awang Teja Satria
Praktisi Hewan Kesayangan
Alergi Hipersensitifitas pada Anjing dan Kucing
Sudah sejak beberapa tahun ini di Indonesia telah masuk berbagai produk makanan hewan kesayangan yang berasal dari negara Eropa, Amerika, dan bahkan Thailand. Dari beberapa kasus yang dijumpai, ada beberapa komponen makanan yang bisa menyebabkan alergi secara individual.
Secara umum, komponen bahan makanan dalam dalam makanan hewan komersial terdiri dari protein hewani yang berasal dari daging sapi, babi, kaming, ayam, telur dan ikan. Protein nabatinya sendiri berasal dari jagung, terigu, oatmeal, kacang hijau. Juga ditemukan adanya penambahan zat aditif seperti pewarna, pengawet dan penyedap. Bahan aditif tersebut bisa menyebabkan reaksi alergi pada hewan kesayangan kita.
Gejala Klinis
Anjing dan kucing selalu menggaruk-garuk dan timbul lesi di daerah telinga, kaki depan bagian proksimal, flank, axila dan muka. Sering terjadi diare, namun nafsu makan masih baik.
Diagnosis dan terapi
Menentukan penyebab alergi tidak mudah. Hal ini berkaitan dengan komponen sumber makanan sebagai seumber alergi. Penegakan diagnosis memerlukan percobaan yang kadang-kadang juga salah. Dalam trial, kilen dianjurkan memberikan makanan buatan sendiri dengan menghindari bahan-bahan makanan yang pernah diberikan sebelumnya.
Trial diet seperti ini biasanya menggunakan sumber protein hewani dari kambing, itik, rusa.Perlakuan ini paling tidak dilakukan selama 2 bulan. Bila trial diet ini bisa menghilangkan reaksi alergi (pruritus, lesi-lesi dan diare) maka anjing dan kucing diberikan makanan sebelumnya selama 2 minggu untuk melihat apakah terjadi reaksi alergi lagi atau tidak.
Secara spesifik, pruritus dan lesi pada kulit akibat alergi tidaklah spesifik seperti pada kasus dermatosis karena parasit, hormonal maupun avitaminosis.
Faktor-faktor penyebab kegagalan diagnosis dan terapi adalah karena kurangnya proses pembelajaran klien (client education) tentang penyebab alergi dan perilaku reaksi alergi yang harus diberikan. Kedua, karena klien yang tidak sabar dan tidak disiplin dalam pelaksanaa trial diet karena merasa terlalu lama.
Sebagai seorang praktisi, adalah kewajiban untuk memberikan informasi yang jelas dan akurat melalui proses pembelajaran klien tentang langkah dan proses pengobatan yang akan dilakukan.
Klien juga perlu diinformasikan bahwa pakan hewan komersial umumnya dibuat dengan bahan makanan yang sama hanya nama komersialnya saja yang berbeda. Pembuat perbedaannya terletak pada pengawet, pewarna, penyedap, antioksidan, kemasan dan harganya. Klien juga perlu mengetahui bahwa alergi bisa timbul secara perlahan sejalan pertambahan usia hewan bila mendapatkan bahan makanan penyebab alergi secara terus menerus. Hal ini karena reaksi alergi berhubungan erat dengan sistem kekebalan seluler dan humoral.
Gejala alergi yang me-nyebabkan pruritus bisa diberikan obat antihistamin, antidepresan baik secara sistemik maupun oral. Obat-obat tersebut jangan dianggap terapi kuratif mengingat ada beberapa faktor lain yang perlu dipertimbangkan seperti berat ringannya gejala yang timbul dan banyak sedikitnya zat alergen didalam tubuh ataupun kemungkinan adanya komplikasi oleh mikroorganisme (Stafilokokus pyogenes, Malasezia pakidermatitis).
Menurut pengalaman penulis, setelah selesai satu seri pengobatan dengan suatu jenis obat sebaiknya dihentikan selama 7-10 hari, kemudian dilanjutkan dengan terapi berikutnya namun menggunakan obat antipruritus lain karena akan memberikan hasil yang lebih baik. |