|
|
|
Artikel
Utama

Peternakan
Rakyat Berbasis Pemanfaatan Limbah (Lanjutan)
Oleh: Drh. Diah Asri
Staff BPPT
| C. |
Disain
Kemampuan Produksi
Kemampuan
produksi silase ini dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu:
| - |
Pengadaan
semua bahan baku dan ketersediaan bahan baku HMT
pucuk tebu segar di lokasi produksi. |
| - |
Kemampuan
alat pemotong hijauan dalam mencacah hijauan pucuk
tebu menjadi cacahan sepanjang 3 sampai 5 cm |
| - |
Jumlah
tenaga kerja |
| - |
Kualitas
tenaga kerja |
| 1. |
Disain
Pengadaan Bahan Baku
Bahan baku terdiri dari bahan pokok berupa
hijauan pucuk tebu dan bahan aditif berupa sumber
karbohidrat dan mikroba.
| a. |
Disain
Pengumpulan bahan baku hijauan pucuk tebu
Bahan baku berupa pucuk tebu harus tersedia
di lokasi dalam bentuk utuh sehingga dapat
diperoleh kadar air stabil sekitar 60%.
Bahan baku pucuk tebu yang berada di lokasi
perkebunan tebu harus dibawa ke lokasi produksi
silase. Setelah tiba di lokasi produksi,
bahan baku pucuk tebu sebaiknya tersimpan
di tempat yang terlindung dari panas matahari
agar penambahan air pada saat produksi tidak
terlalu banyak akibat mengeringnya hijauan;
dan juga harus terlindung dari hujan serta
tidak tertimbun terlalu lama di lokasi untuk
menghindari pembusukan.
Pucuk
tebu yang dibutuhkan untuk memproduksi silase
sebanyak 360 ton adalah 432 ton pucuk tebu
segar siap panen dengan perkiraan kadar
air sekitar 50%. Pengumpulan bahan baku
hijauan pucuk tebu segar dapat dilakukan
dengan menggunakan truk berkapasitas minimal
3 ton per rit dan harus dikumpulkan di lokasi
produksi dalam waktu bersamaan dalam 1 hari
untuk mencegah kerusakan, penyusutan dan
pengeringan akibat pembusukan karena penimbunan
yang terlalu lama, kehujanan atau pemanasan
matahari. Dengan demikian dibutuhkan 144
rit untuk memenuhi kebutuhan HMT pucuk tebu
segar.
Ketersediaan
bahan baku hijauan di lokasi ptroduksi secara
lengkap akan memperlancar kinerja mesin
dan produksi keseluruhan. Ketersediaan yang
cukup akan mencegah terbuangnya waktu untuk
mencacah dengan mesin chopper serta menganggurnya
tenaga kerja yang ada.
|
| b. |
Disain
Persiapan Bahan baku aditif
Bahan baku aditif adalah bahan yang digunakan
untuk mempercepat proses produksi silase
hijauan pucuk tebu menjadi silase pucuk
tebu. Bahan aditif ini terdiri dari tetes
tebu dan mikroba laktobasilus.
Kebutuhan
tetes tebu cair dapat diperoleh dengan cara
mencairkan tetes tebu yang masih kental
yang diperoleh dari pabrik dengan air secukupnya,
tergantung dari kadar air pucuk tebu segar.
Untuk
mikroba starter dapat digunakan mikroba
laktobasilus instan yang sudah banyak dijual
dengan menggunakan berbagai merk, atau memanfaatkan
sayuran kol yang dalam penelitian fakultas
Peternakan IPB mengandung bakteri Laktobasilus
dan dapat menjadi sumber bakteri ini dalam
waktu singkat.
Untuk
mempercepat pembiakan mikroba, dapat digunakan
sumber karbohidrat seperti tetes tebu sekitar
0,25% dari berat hijauan dikalikan 1 liter.
Jadi untuk memproses HMT pucuk tebu segar
432 ton, dibutuhkan tetes tebu cair sebanyak
1080 liter atau sekitar 500 liter tetes
tebu kental ( pengenceran 2 x ).
|
|
| 2. |
Disain
kemampuan alat pemotong hijauan dalam mencacah
hijauan pucuk tebu menjadi cacahan sepanjang 3
sampai 5 cm
| a. |
Disain
Pencacahan bahan baku hijauan pucuk tebu
Bahan baku hijauan yang sudah terkumpul
di lokasi secara lengkap, paling lambat
keesokan harinya sudah harus dicacah untuk
dapat dtimbang pada saat proses. Pencacahan
hijauan dapat dilakukan dengan pisau secara
manual dapat juga dengan alat yaitu mesin
pencacah. Karena jumlah yang dicacah 432
ton maka penggunaan alat cacah sangat direkomendasikan
bahkan wajib, untuk efisiensi kepraktisan
dan kinerja. Pencacahan manual dengan pisau
biasa, selain lama juga tidak efisien karena
tenaga yang dibutuhkan sangat banyak serta
tidak kontinu. Tergantung pada cepat tidaknya
kadar kelelahan orang. Pencacahan dengan
alat efektifitasnya tergantung sekali pada
kemampuan alat pencacah. Alat pencacah hijauan
ini biasa disebut dengan sebutan "Chopper".
Dari hasil kajian ternyata alat Chopper
tembakau juga mampu mencacah pucuk tebu
dalam waktu singkat dengan kapasitas cacah
3 ton per jam termasuk dengan istirahat
mesin setiap 30 menit sekali selama 5 menit,
Dengan kemampuan seperti ini, maka mesin
Chopper yang digunakan untuk merajang tembakau
ini direkomendasikan untuk dipakai.
|
| b. |
Disain
lama waktu yang dibutuhkan untuk mencacah
Hijauan Pucuk tebu
Bila mesin chopper tembakau yang digunakan,
maka untuk mencacah 432 ton HMT pucuk tebu
segar secara terus menerus dibutuhkan waktu
selama 432 : 3 x 1 jam = 144 jam atau kurang
lebih 18 hari kerja dengan 8 jam kerja per
hari. Untuk men-chopper 432 ton HMT pucuk
tebu segar yang membutuhkan waktu 18 hari
dengan catatan ketersediaan pucuk tebu sebanyak
432 ton sudah ada di lokasi produksi. Ketersediaan
bahan baku pucuk tebu di lokasi akan sangat
mempengaruhi sekali efisiensi produksi sehingga
akan mempengaruhi mutu dan harga produk
silase pucuk tebu ini. 3. Disain perhitungan
tenaga kerja Lama proses pengisian dan pemadatan
hijauan dalam silo volume 2 m3 yang berkapasitas
muat 1,2 ton HMT pucuk tebu segar adalah
4 silo dalam waktu 8 jam, termasuk istirahat
1 jam untuk makan siang dan sholat. Jadi
untuk 432 ton HMT segar pucuk tebu dibutuhkan
360 silo 90 hari kerja.
|
Tenaga
kerja
Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah tenaga untuk:
mencacah HMT, menimbang HMT, mempersiapkan bahan
aditif dan memadatkan hijauan yang sudah dicacah
di dalam silo kolam.
| a. |
Pencacahan
432 ton selama 90 hari dilakukan oleh 5 orang
tenaga kerja (450 OH) |
| b. |
Persiapan
bahan aditif dilakukan pada saat pencacahan
oleh 1 orang tenaga kerja, cukup dilakukan
dalam waktu 1 hari. Tenaga kerja ini khusus
untuk mempersiapkan bahan aditif, dan harus
orang yang berbeda dengan tenaga yang mengerjakan
pencacahan (1 OH) |
| c. |
Pemadatan
hijauan dalam silo kolam dilakukan pada hari
ke tiga yaitu setelah pencacahan selesai yang
otomatis juga selesainya persiapan bahan baku
aditif. Pemadatan dilakukan oleh 4 orang tenaga
kerja yang bekerja secara shift 2 orang per
shift per hari, sehingga dalam 90 hari kerja
pekerjaan pemadatan dapat selesai hanya dengan
4 orang tenaga pemadatan. Diantara ke 4 orang
tenaga pemadatan, 4 orang tersebut adalah
orang yang sama dengan orang yang melakukan
pekerjaan pencacahan (0 OH ) |
| d. |
Penimbangan
cukup dilakukan oleh 1 orang tenaga kerja
yang bekerja penuh selama 90 hari kerja yaitu
pada saat yang sama dengan saat pemadatan
hijauan dalam kolam silo. Orang ini adalah
orang yang sama dengan orang yang melakukan
persiapan bahan aditif (0 OH) |
| e. |
Disain
dengan kinerja seperti tersebut ini maka kebutuhan
tenaga kerja hanya 5 orang dengan perincian
kerja total 451 OH. (450 + 1 OH ). |
| Kualitas
tenaga kerja |
| a. |
Tenaga
kerja untuk produksi silase
Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk sebuah
industri peternakan rakyat terpadu yang
mensuplai kelompok peternak dengan 10 ekor
sapi penggemukan per peternak , meliputi
tenaga kerja supervisor dan tenaga kerja
kasar produksi silase.
| a.1. |
Tenaga
supervisor harus memiliki persyaratan
tertentu seperti: |
| - |
Memiliki
pendidikan berlatar belakang peternakan |
| - |
Memiliki
ilmu dasar baik di bidang peternakan
dan ilmu kekhususan di bidang pembuatan
pakan ternak |
| - |
Memiliki
kemampuan mempimpin |
| a.2. |
Tenaga
kasar yang dibutuhkan adalah untuk memproduksi
silase yang meliputi: mencacah HMT,
menimbang HMT, mempersiapkan bahan aditif
dan memadatkan hijauan yang sudah dicacah
di dalam silo kolam. |
| - |
Tenaga
untuk memproduksi silase ini umumnya
tidak begitu memerlukan kemampuan ketranpilan,
namun agar hasil produksi betul-betul
berkualitas maka faktor kerajinan dan
penuh tanggung jawab sangat menentukan
hasil yang dicapai. |
| - |
Tenaga
untuk menimbang harus teliti dan menguasai
benar arti anak-anak timbangan. |
| - |
Tenaga
untuk mencacah harus kuat dan rajin |
| - |
Tenaga
untuk mempersiapkan bahan aditif tidak
perlu syarat khusus, yang penting rajin. |
| - |
Tenaga
untuk pemadatan harus kuat dan tidak
mudah lelah. |
|
| b. |
Peternak
Peternak yang akan mengikuti program pengembangan
ini harus mempunyai bakat memelihara ternak
sapi. Hal ini penting mengingat sapi adalah
benda hidup yang dapat memeliharaanya dibutuhkan
kemampuan untuk menyayangi ternak dengan
sepenuh hati / penyayang binatang / hewan
termasuk hewan ternak. Pendidikan disini
tidak diutamakan, namun pengalaman jauh
lebih dibutuhkan. Jadi petrnak yang sudah
terbiasa memelihara sapi menjadi pilihan
utama walaupun seandainya pendidikannya
rendah.
Untuk
memelihara 10 ekor sapi jenis-jenis kegiatan
yang harus dikerjakan adalah : membersihkan
kandang secara rutin, memandikan sapi, rajin
memeriksa sapi secara keseluruhan dari gejala-gejala
tingkah laku sapi yang menyimpang dari biasanya
dan kemungkinan-kemungkinan adanya gejala
kesakitan atau jejas-jejas luka di sekujur
permukaan kulit. memberi makan sapi dengan
penuh kasih sayang
|
|
|
<<
Kembali ke Bagian 1
|
|