Edisi 008
Agustus 2006

Artikel Utama
Buat Apa Ikut PDHI?

Peternakan Rakyat Berbasis Pemanfaatan Limbah

Dokter Kandungan Sapi

Sains
Chlamydia pneumoniae Penyebab Penyakit Kardiovaskuler

Seri Continuing Education
Antara CE, Vet Family Gathering dan Kongres PDHI

Seputar Berita Terkini
Sapi Sonok, Kontes Sapi Betina

Klinik
Orangutan Care Center and Quarantine

Dari Anda
Tidak Harus Kaya Untuk Menjadi Filantrop


Artikel Utama


Peternakan Rakyat Berbasis Pemanfaatan Limbah (Lanjutan)
Oleh: Drh. Diah Asri
Staff BPPT


C.

Disain Kemampuan Produksi

Kemampuan produksi silase ini dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu:

- Pengadaan semua bahan baku dan ketersediaan bahan baku HMT pucuk tebu segar di lokasi produksi.
- Kemampuan alat pemotong hijauan dalam mencacah hijauan pucuk tebu menjadi cacahan sepanjang 3 sampai 5 cm
- Jumlah tenaga kerja
- Kualitas tenaga kerja

1.

Disain Pengadaan Bahan Baku
Bahan baku terdiri dari bahan pokok berupa hijauan pucuk tebu dan bahan aditif berupa sumber karbohidrat dan mikroba.

a.

Disain Pengumpulan bahan baku hijauan pucuk tebu
Bahan baku berupa pucuk tebu harus tersedia di lokasi dalam bentuk utuh sehingga dapat diperoleh kadar air stabil sekitar 60%. Bahan baku pucuk tebu yang berada di lokasi perkebunan tebu harus dibawa ke lokasi produksi silase. Setelah tiba di lokasi produksi, bahan baku pucuk tebu sebaiknya tersimpan di tempat yang terlindung dari panas matahari agar penambahan air pada saat produksi tidak terlalu banyak akibat mengeringnya hijauan; dan juga harus terlindung dari hujan serta tidak tertimbun terlalu lama di lokasi untuk menghindari pembusukan.

Pucuk tebu yang dibutuhkan untuk memproduksi silase sebanyak 360 ton adalah 432 ton pucuk tebu segar siap panen dengan perkiraan kadar air sekitar 50%. Pengumpulan bahan baku hijauan pucuk tebu segar dapat dilakukan dengan menggunakan truk berkapasitas minimal 3 ton per rit dan harus dikumpulkan di lokasi produksi dalam waktu bersamaan dalam 1 hari untuk mencegah kerusakan, penyusutan dan pengeringan akibat pembusukan karena penimbunan yang terlalu lama, kehujanan atau pemanasan matahari. Dengan demikian dibutuhkan 144 rit untuk memenuhi kebutuhan HMT pucuk tebu segar.

Ketersediaan bahan baku hijauan di lokasi ptroduksi secara lengkap akan memperlancar kinerja mesin dan produksi keseluruhan. Ketersediaan yang cukup akan mencegah terbuangnya waktu untuk mencacah dengan mesin chopper serta menganggurnya tenaga kerja yang ada.

b.

Disain Persiapan Bahan baku aditif
Bahan baku aditif adalah bahan yang digunakan untuk mempercepat proses produksi silase hijauan pucuk tebu menjadi silase pucuk tebu. Bahan aditif ini terdiri dari tetes tebu dan mikroba laktobasilus.

Kebutuhan tetes tebu cair dapat diperoleh dengan cara mencairkan tetes tebu yang masih kental yang diperoleh dari pabrik dengan air secukupnya, tergantung dari kadar air pucuk tebu segar.

Untuk mikroba starter dapat digunakan mikroba laktobasilus instan yang sudah banyak dijual dengan menggunakan berbagai merk, atau memanfaatkan sayuran kol yang dalam penelitian fakultas Peternakan IPB mengandung bakteri Laktobasilus dan dapat menjadi sumber bakteri ini dalam waktu singkat.

Untuk mempercepat pembiakan mikroba, dapat digunakan sumber karbohidrat seperti tetes tebu sekitar 0,25% dari berat hijauan dikalikan 1 liter. Jadi untuk memproses HMT pucuk tebu segar 432 ton, dibutuhkan tetes tebu cair sebanyak 1080 liter atau sekitar 500 liter tetes tebu kental ( pengenceran 2 x ).

 

2.

Disain kemampuan alat pemotong hijauan dalam mencacah hijauan pucuk tebu menjadi cacahan sepanjang 3 sampai 5 cm

a.

Disain Pencacahan bahan baku hijauan pucuk tebu
Bahan baku hijauan yang sudah terkumpul di lokasi secara lengkap, paling lambat keesokan harinya sudah harus dicacah untuk dapat dtimbang pada saat proses. Pencacahan hijauan dapat dilakukan dengan pisau secara manual dapat juga dengan alat yaitu mesin pencacah. Karena jumlah yang dicacah 432 ton maka penggunaan alat cacah sangat direkomendasikan bahkan wajib, untuk efisiensi kepraktisan dan kinerja. Pencacahan manual dengan pisau biasa, selain lama juga tidak efisien karena tenaga yang dibutuhkan sangat banyak serta tidak kontinu. Tergantung pada cepat tidaknya kadar kelelahan orang. Pencacahan dengan alat efektifitasnya tergantung sekali pada kemampuan alat pencacah. Alat pencacah hijauan ini biasa disebut dengan sebutan "Chopper". Dari hasil kajian ternyata alat Chopper tembakau juga mampu mencacah pucuk tebu dalam waktu singkat dengan kapasitas cacah 3 ton per jam termasuk dengan istirahat mesin setiap 30 menit sekali selama 5 menit, Dengan kemampuan seperti ini, maka mesin Chopper yang digunakan untuk merajang tembakau ini direkomendasikan untuk dipakai.

b.

Disain lama waktu yang dibutuhkan untuk mencacah Hijauan Pucuk tebu
Bila mesin chopper tembakau yang digunakan, maka untuk mencacah 432 ton HMT pucuk tebu segar secara terus menerus dibutuhkan waktu selama 432 : 3 x 1 jam = 144 jam atau kurang lebih 18 hari kerja dengan 8 jam kerja per hari. Untuk men-chopper 432 ton HMT pucuk tebu segar yang membutuhkan waktu 18 hari dengan catatan ketersediaan pucuk tebu sebanyak 432 ton sudah ada di lokasi produksi. Ketersediaan bahan baku pucuk tebu di lokasi akan sangat mempengaruhi sekali efisiensi produksi sehingga akan mempengaruhi mutu dan harga produk silase pucuk tebu ini. 3. Disain perhitungan tenaga kerja Lama proses pengisian dan pemadatan hijauan dalam silo volume 2 m3 yang berkapasitas muat 1,2 ton HMT pucuk tebu segar adalah 4 silo dalam waktu 8 jam, termasuk istirahat 1 jam untuk makan siang dan sholat. Jadi untuk 432 ton HMT segar pucuk tebu dibutuhkan 360 silo 90 hari kerja.

Tenaga kerja
Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah tenaga untuk:
mencacah HMT, menimbang HMT, mempersiapkan bahan aditif dan memadatkan hijauan yang sudah dicacah di dalam silo kolam.

a. Pencacahan 432 ton selama 90 hari dilakukan oleh 5 orang tenaga kerja (450 OH)
b. Persiapan bahan aditif dilakukan pada saat pencacahan oleh 1 orang tenaga kerja, cukup dilakukan dalam waktu 1 hari. Tenaga kerja ini khusus untuk mempersiapkan bahan aditif, dan harus orang yang berbeda dengan tenaga yang mengerjakan pencacahan (1 OH)
c. Pemadatan hijauan dalam silo kolam dilakukan pada hari ke tiga yaitu setelah pencacahan selesai yang otomatis juga selesainya persiapan bahan baku aditif. Pemadatan dilakukan oleh 4 orang tenaga kerja yang bekerja secara shift 2 orang per shift per hari, sehingga dalam 90 hari kerja pekerjaan pemadatan dapat selesai hanya dengan 4 orang tenaga pemadatan. Diantara ke 4 orang tenaga pemadatan, 4 orang tersebut adalah orang yang sama dengan orang yang melakukan pekerjaan pencacahan (0 OH )
d. Penimbangan cukup dilakukan oleh 1 orang tenaga kerja yang bekerja penuh selama 90 hari kerja yaitu pada saat yang sama dengan saat pemadatan hijauan dalam kolam silo. Orang ini adalah orang yang sama dengan orang yang melakukan persiapan bahan aditif (0 OH)
e. Disain dengan kinerja seperti tersebut ini maka kebutuhan tenaga kerja hanya 5 orang dengan perincian kerja total 451 OH. (450 + 1 OH ).

Kualitas tenaga kerja
a.

Tenaga kerja untuk produksi silase
Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk sebuah industri peternakan rakyat terpadu yang mensuplai kelompok peternak dengan 10 ekor sapi penggemukan per peternak , meliputi tenaga kerja supervisor dan tenaga kerja kasar produksi silase.

a.1. Tenaga supervisor harus memiliki persyaratan tertentu seperti:
- Memiliki pendidikan berlatar belakang peternakan
- Memiliki ilmu dasar baik di bidang peternakan dan ilmu kekhususan di bidang pembuatan pakan ternak
- Memiliki kemampuan mempimpin

a.2. Tenaga kasar yang dibutuhkan adalah untuk memproduksi silase yang meliputi: mencacah HMT, menimbang HMT, mempersiapkan bahan aditif dan memadatkan hijauan yang sudah dicacah di dalam silo kolam.
- Tenaga untuk memproduksi silase ini umumnya tidak begitu memerlukan kemampuan ketranpilan, namun agar hasil produksi betul-betul berkualitas maka faktor kerajinan dan penuh tanggung jawab sangat menentukan hasil yang dicapai.
- Tenaga untuk menimbang harus teliti dan menguasai benar arti anak-anak timbangan.
- Tenaga untuk mencacah harus kuat dan rajin
- Tenaga untuk mempersiapkan bahan aditif tidak perlu syarat khusus, yang penting rajin.
- Tenaga untuk pemadatan harus kuat dan tidak mudah lelah.
b.

Peternak
Peternak yang akan mengikuti program pengembangan ini harus mempunyai bakat memelihara ternak sapi. Hal ini penting mengingat sapi adalah benda hidup yang dapat memeliharaanya dibutuhkan kemampuan untuk menyayangi ternak dengan sepenuh hati / penyayang binatang / hewan termasuk hewan ternak. Pendidikan disini tidak diutamakan, namun pengalaman jauh lebih dibutuhkan. Jadi petrnak yang sudah terbiasa memelihara sapi menjadi pilihan utama walaupun seandainya pendidikannya rendah.

Untuk memelihara 10 ekor sapi jenis-jenis kegiatan yang harus dikerjakan adalah : membersihkan kandang secara rutin, memandikan sapi, rajin memeriksa sapi secara keseluruhan dari gejala-gejala tingkah laku sapi yang menyimpang dari biasanya dan kemungkinan-kemungkinan adanya gejala kesakitan atau jejas-jejas luka di sekujur permukaan kulit. memberi makan sapi dengan penuh kasih sayang

<< Kembali ke Bagian 1

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by