Edisi 008
Agustus 2006

Artikel Utama
Buat Apa Ikut PDHI?

Peternakan Rakyat Berbasis Pemanfaatan Limbah

Dokter Kandungan Sapi

Sains
Chlamydia pneumoniae Penyebab Penyakit Kardiovaskuler

Seri Continuing Education
Antara CE, Vet Family Gathering dan Kongres PDHI

Seputar Berita Terkini
Sapi Sonok, Kontes Sapi Betina

Klinik
Orangutan Care Center and Quarantine

Dari Anda
Tidak Harus Kaya Untuk Menjadi Filantrop


Artikel Utama


Peternakan Rakyat Berbasis Pemanfaatan Limbah
Oleh: Drh. Diah Asri
Staff BPPT

Artikel ini terbagi dalam dua bagian:
- Bagian 1
- Bagian 2



Latar Belakang

Prospek pengembangan peternakan rakyat sangat baik sekali, karena kebutuhan daging sapi untuk Indonesia sudah meningkat mengingat meningkatnya kesadaran masyarakat akan pemenuhan gizi baik . Pernyataan ini dibuktikan oleh gambaran kebutuhan daging sapi di Jakarta dan Jawa Barat yang belum dapat dipenuhi oleh sapi-sapi yang didatangkan dari Jawa Timur, Jawa tengah dan NTT (Data RPH Cakung).

Dari segi ketersediaan ternak sapi, peternakan rakyat termasuk program yang selalu dikembangkan oleh pemerintah daerah melalui program-program pengembangan peternakan rakyat di Dinas-Dinas peternakan, yang antara lain mempunyai program import anak sapi dari Luar maupun pengadaan sapi di dalam negeri melalui Inseminasi buatan (Dinas Peternakan dan BIB).

Daerah-daerah di luar P. Jawa yang merupakan daerah transmigrasi seperti antara lain Lampung, Jambi dll.merupakan daerah dimana sumberdaya manusia yang berasal dari P. Jawa diharapkan akan mengembangkan dan menularkan kebiasaan beternak sapi secara intensif dan mengubah perilaku masyarakat setempat yang terbiasa memelihara sapi secara ekstensif (dibiarkan di hutan).

Potensi hijauan pucuk tebu di perkebunan tebu maupun potensi limbah pucuk daun jagung dari perkebunan-perkebunan jagung, sangat potensial sekali sebagai sumber hijauan untuk diawetkan dan digunakan sebagai pakan hijauan awetan untuk musim kemarau.

Dari hasil wawancara dengan Bp. Henry pemilik dari PT Blimbing Manis , Toyomarto, Singosari, Malang, diketahui bahwa arel perkebunan tebu yang dikelola pengangkutan tebunya oleh PT BM ini adalah 160 ha. Masa panen dalam setahun berlangsung selama 9 bulan dari bulan April s/d Desember. Dari setiap ha diperoleh tebu sebanyak 600 kwintal atau 60 ton. Bila diasumsikan pucuk daun tebu adalah sebesar 5% dari keseluruhan pohon tebu, maka limbah hijauan pucuk tebu yang dihasilkan pada saat panen adalah 3 ton per hectare. Jadi potensi limbah hijauan yang dapat digunakan untuk pakan ternak adalah 160 x 3 ton = 480 ton.

Dari segi potensi, bila seluruh perkebunan tebu menjadi bapak angkat dalam pengembangan peternakan rakyat, khususnya dalam hal penyediaan pakan hijauan, maka potensi pakan yang tersedia sudah dapat mencukupi kebutuhan hijauan sepanjang tahun.


PENGEMBANGAN PETERNAKAN RAKYAT
Definisi Peternakan Rakyat
Agar rakyat dapat merasakan keuntungan dalam memelihara ternak, khususnya sapi potong, maka dalam disain pengembangan peternakan rakyat ini dibuat sedemikian rupa agar setiap peternakan rakyat harus memiliki minimal 10 ekor sapi umur bakalan ( 1 tahun ) dengan berat badan awal 300 kg dan harus dipelihara selama maksimal 4 bulan , sehingga dalam setahun dapat memproduksi dua kali usaha penggemukan sapi. Dengan masa istirahat kandang yang cukup.

Metoda pemeliharaan penggemukan ternak sapi potong dengan silase, merupakan metoda pemeliharaan sapi potong secara intensif. Sapi di kandang digemukkan dengan pakan yang sudah tersedia, sehingga peternak hanya memikirkan pemeliharaan sapi saja tanpa harus memikirkan mencari hijauan makanan ternak. Sehingga tenaga pemelihara dapat lebih sedikit sedang cara pemeliharaan akan lebih efisien dan produktif karena pertambahan berat badan dapat lebih dipacu.

Tujuan
Dalam usaha pengembangan peternakan rakyat berbasis pemanfaatan limbah ini, antara pengelola perkebunan tebu dan peternak diharapkan dapat saling melengkapi dalam hal :

-
Menjadi penyedia pakan hijauan untuk ternak sapi potong
-
Mengembangkan peternakan rakyat dengan sistim kemitraan pengusaha pakan dengan peternak rakyat
-
Membuka lapangan kerja baik di Industri silase hijauan pucuk tebu untuk pakan sapi potong maupun di Industri peternakan rakyat.


UJI COBA PADA 10 EKOR SAPI POTONG

A.

Disain Perhitungan Kebutuhan Bahan Baku Hijauan Segar Pucuk Tebu Untuk Produksi HMT Silase

Perhitungan Kebutuhan Pakan
Kapasitas produksi HMT silase didisain untuk memenuhi kebutuhan pakan hijauan 10 ekor sapi umur bakalan 1 tahun selama 4 bulan, dengan catatan : HMT silase diberikan sebanyak 5% berat badan/ekor/hari ditambah dengan pakan konsentrat berupa campuran dedak dan onggok 2 : 1 yang diberikan sebanyak 10% konsumsi HMT silase agar
dihasilkan pertambahan bobot badan sapi rata-rata sebesar 1 kg / ekor /hari.

Kebutuhan hijauan silase untuk sapi PO umur bakalan 1 tahun, yang ditetapkan adalah 5 % berat badan. Jadi kebutuhan hijauan untuk penggemukan selama 4 bulan per ekor, dengan pertambahan berat badan 1 kg per ekor per hari adalah : (5% x 300 kg x 120 hari ) + (5% x 1 kg x 120 hari) = 1800 kg + 6 kg = 1806 kg atau sekitar 1,8 ton. Jadi kebutuhan pakan hijauan dalam 4 bulan masa pemeliharaan adalah : 10 ekor x 1,8 ton = 18 ton/peternak. Jadi untuk 1 kelompok selama 4 bulan dibutuhkan 180 ton. Dalam 1 tahun dengan 2 kali masa penggemukan kebutuhanya menjadi 360 ton. Bila melihat potensi limbah pucuk tebu adalah 480 ton pada saat panen, maka limbah pucuk tebu dari perkebunan tebu yang dikelola oleh PT Blimbing Manis ini hanya mencukupi untuk 2 kali masa pemeliharaan yaitu 360 ton silase limbah tebu. Untuk perkebunan yang kapasitas kebunnya lebih besar, untuk menjadi bapak angkat peternak tetap harus dengan maksimal cakupan 1 kelompok peternak saja. Hal ini untuk tetap menjaga kelangsungan usaha peternakan rakyat tersebut.


B.

Desain / Perkiraan Areal Perkebunan Tebu yang Harus Tersedia Untuk Memenuhi Kebutuhan

Pucuk Tebu
Menurut hasil kajian di Jawa Timur ( di Jombang dan Tulungagung, dan cross hasil dengan wawancara praktisi pengelola pengangkutan tebu PT Blimbing Manis), 1 Ha areal tebu menghasilkan 3 ton pucuk tebu.

Kebutuhan HMT silase pada tahap uji coba ini dengan 2 kali masa pemeliharaan adalah 360 ton setahun. Kadar air hijauan segar yang digunakan untuk memproduksi silase harus sekitar 60%.

Pucuk tebu yang siap dipanen gulanya, mempunyai kadar air sebesar 50% ( Sory Siregar, 1989). Jadi untuk memproduksi HMT Silase sebanyak 360 ton, dibutuhkan hijauan pucuk tebu segar sebanyak 60% : 50% x 360 ton = 432 ton pucuk tebu segar. Areal perkebunan tebu yang harus disediakan adalah : 432 ton : 3 ton x 1 ha = 144 ha.

Lanjut ke Bagian 2 >>

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by