Edisi 008
Agustus 2006

Artikel Utama
Buat Apa Ikut PDHI?

Peternakan Rakyat Berbasis Pemanfaatan Limbah

Dokter Kandungan Sapi

Sains
Chlamydia pneumoniae Penyebab Penyakit Kardiovaskuler

Seri Continuing Education
Antara CE, Vet Family Gathering dan Kongres PDHI

Seputar Berita Terkini
Sapi Sonok, Kontes Sapi Betina

Klinik
Orangutan Care Center and Quarantine

Dari Anda
Tidak Harus Kaya Untuk Menjadi Filantrop


Klinik

Orangutan Care Center and Quarantine
Oleh: Drh. Popowati

Orangutan adalah satwa endemik di Kalimantan dan Sumatera, yang termasuk dalam jenis kera besar (great ape) dan merupakan satwa arboreal terbesar yang hidup secara semi-soliter. Orangutan adalah pemakan buah-buahan (frugivorous), daun, kulit pohon dan juga bunga, tetapi kadang-kadang mereka juga makan serangga, misal: rayap dan semut. Orangutan betina rata-rata mencapai dewasa kelamin pada umur 15 tahun dan beranak tiap 8 tahun sekali, karena anak orangutan akan tinggal bersama dan tergantung pada induknya sampai ia berumur 7-8 tahun. Seekor induk orangutan tidak akan pernah memberikan bayinya kepada siapapun sampai titik darah penghabisan, jadi untuk mendapatkan satu ekor anak orangutan minimal harus membunuh induknya lebih dahulu.

Berawal dari proses rehabilitasi yang dilakukan oleh Prof. Dr. Birute M. F. Galdikas di Taman Nasional Tanjung Puting sejak tahun 1971, Orangutan Care Center and Quarantine (OCCQ) atau Pusat Perawatan dan Karantina Orangutan yang didirikan pada tahun 1997, merupakan salah satu wadah yang bertujuan untuk menunjang proses rehabilitasi orangutan. Bertempat di desa Pasir Panjang, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah di tanah seluas ±75 ha dan berada di bawah naungan Orangutan Foundation International (OFI) yang juga diprakarsai oleh Prof. Dr. Birute M. F. Galdikas.

OCCQ terdiri dari dua bangunan yang terpisah untuk perawatan orangutan sehat dan karantina (orangutan sakit dan orangutan yang baru datang). Fasilitas yang dimiliki antara lain: ruang operasi, ruang obat, ruang rongent, laboratorium, ruang perawatan untuk orangutan sakit, ruang nekropsi, kandang perawatan, kandang pelatihan dan kandang karantina. Juga ada beberapa fasilitas penunjang, antara lain: kantor, dapur, ruang makan untuk karyawan, gudang buah, dan incinerator.

Proses rehabilitasi orangutan yang dilakukan di OCCQ terdiri dari tiga tahap yang saling berkaitan dan menjadi perhatian utama bagi para dokter hewan, yaitu:

1. Karantina orangutan yang baru datang
Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan kesehatan secara umum, pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan feses, pemeriksaan urine dan pemeriksaan tuberculosis, hingga orangutan tersebut dinyatakan benar-benar sehat dan bebas penyakit sehingga dapat mengikuti tahap selanjutnya.

2. Pelatihan dan perawatan
Peningkatan kemampuan individu, daya tahan untuk hidup di alam dan pemeliharaan kesehatan orangutan merupakan hal utama dalam kegiatan ini. Pemeliharaan kesehatan orangutan dilakukan dengan pemantauan kesehatan secara kontinyu, program pencegahan penyakit dan perawatan untuk orangutan yang sakit, antara lain: melakukan deworming dengan obat cacing berbeda tiap 3 bulan sekali, pemeriksaan darah lengkap rutin dilakukan sekali dalam setahun dan pemeriksaan kesehatan secara umum juga dilakukan rutin tiap 6 bulan sekali.
Kasus penyakit pada orangutan bayi (=1 tahun) sebagian besar berupa gangguan organ pernafasan (pneumonia, sinusitis dan bronchitis) dan gangguan gastrointestinal (diare, gastritis, milk intolerance). Pada orang utan anak dan remaja (1-8 tahun) kasus yang sering terjadi adalah gangguan organ pernafasan, airsacculitis (infeksi airsac atau kantong suara), malaria, penyakit kulit dan kasus-kasus ortopedik.
Strongyloides, terutama Strongyloides stercoralis, dan hookworm adalah jenis cacing yang paling banyak ditemukan menginfestasi orangutan dan mempunyai tingkat kematian yang cukup tinggi, sama halnya dengan infeksi Entamoeba hystolitica.

3. Pelepasliaran atau release, pengembalian orangutan ke habitatnya
Sebelum dilepasliarkan di habitatnya yang baru, orangutan kembali dikarantina untuk mengevaluasi sejarah penyakit dan kasus lain yang pernah diderita dan dilakukan pemeriksaan ulang terhadap penyakit tersebut sehingga dapat dipastikan bahwa orangutan tersebut sudah benar-benar dalam kondisi sehat dan bebas penyakit. Untuk saat ini, tempat release orangutan dari OCCQ adalah Suaka Margasatwa Lamandau.

Dari serangkaian proses ini, kita berharap akan bertambahnya jumlah populasi orangutan di alam sehingga kita dapat mengurangi laju kepunahan dari orangutan yang merupakan spesies langka dan kebanggan kita semua. Semoga usaha yang kami lakukan dapat bermanfaat bagi generasi yang akan datang.

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by