|
Dari
Anda
Tidak
Harus Kaya Untuk Menjadi Filantrop

Oleh: Drh.
Ova Indri
Pernah baca kisah pendiri bisnis raksasa kelas dunia Konosuke
Matsushite?
Bahwa
sebagai seorang bisnisman tulen di akhir hayatnya menyumbang
US$ 291 juta dari uang pribadinya dan US$ 99 juta dari kas
perusahaan untuk dana kemanusiaan.Dengan motto bisnis "Life
isn't only bread" (dibaca : hidup bukanlah sekedar untuk
sepotong brownies).
Itu
yang dari negeri samurai yang memang sudah jauh lebih maju
dari kita.Bagaimana dengan negara kita yang berdasarkan survey
UCLA "berhasil" menduduki peringkat 3 negara paling korup
setelah Bangladesh dan Myanmar? Hai…please,jangan underestimate
gitu dong! Baca majalah Swa edisi 07/XXII dengan topik "Bos,
Bos Filantrop" Uhuiii…benar-benar mengagumkan, di saat
negeri ini bergelut dengan carut-marut krisis multidimensi
yang berkepanjangan, justru mereka berlomba-lomba untuk lebih
bermanfaat bagi orang lain.
Deretan
para eksekutif ternyata sangat serius untuk menjadi Filantrop.Tentu
saja akan signifikan dengan usaha menjadi sukses.Karena dengan
semakin sukses bisnis yang dijalani (berarti profit meningkat)
maka dana untuk kegiatan Filantropi semakin lancar pula. Ditulis,
Jacqueline Michelle Sampoerna dengan Sampoerna Foundation
yang dikelola layaknya perusahaan telah menyalurkan beasiswa
kepada lebih dari 18 ribu orang dari pendidikan dasar sampai
jenjang pasca sarjana. Tidak mau kalah dari deretan artis
Dik Doang mendirikan Sekolah Alam…Gratis !
Oh
well, mereka berlebih kan? Tentu saja. Dan tidak harus menjadi
sesukses mereka kalau kita merasa mampu berbuat (maaf bukannya
meragukan kemampuan sendiri untuk menjadi sesukses contoh-contoh
diatas tapi daripada lumutan menunggu sesuatu yang belum jelas,
apa enggak lebih efektif kita segera lakukan dan hadapi apa
yang ada di depan mata).
Seorang
pembaca majalah Chic yang keberatan menyebutkan nama
karena khawatir menodai niat ikhlas dihati menulis bahwa sudah
satu tahun ini tiap Sabtu -Minggu dia isi dengan kegiatan
berkeliling di kawasan kumuh untuk sekedar memberi buku bacaan
anak-anak kepada mereka yang kurang beruntung kemudian mengajari
cara membuat tulisan bisa puisi atau cerpen tentang dunia
sehari-hari mereka. Setelah edit sana sini kemudian dikirim
ke majalah anak-anak. Beberapa sudah dimuat. Ketika ditunjukkan
karya mereka dihargai dan diapresiasi semangat mereka untuk
berkarya lagi sangat luar biasa.
So,
adakah alasan lain untuk kita menunda sesuatu yang indah menjadi
lebih indah dan bermakna untuk orang lain? Tidak harus menjadi
jutawan untuk "keinginan memberi". Dibutuhkan semangat kuat
untuk memulai, ide cemerlang dan kerja cerdas untuk mewujudkan.
Percayalah, walau badai menghadang (asal bukan Katrina) karena
semangat dalam hati adalah untuk menuju/taqarrub kepada Al
Wahab Allah Yang Maha Memberi, maka akan dimudahkan usaha
kita.
Ayo
kita mulai menjadi Filantrop dari diri sendiri dan saat ini
juga.
|