Edisi 008
Agustus 2006

Artikel Utama
Buat Apa Ikut PDHI?

Peternakan Rakyat Berbasis Pemanfaatan Limbah

Dokter Kandungan Sapi

Sains
Chlamydia pneumoniae Penyebab Penyakit Kardiovaskuler

Seri Continuing Education
Antara CE, Vet Family Gathering dan Kongres PDHI

Seputar Berita Terkini
Sapi Sonok, Kontes Sapi Betina

Klinik
Orangutan Care Center and Quarantine

Dari Anda
Tidak Harus Kaya Untuk Menjadi Filantrop


Sains


Chlamydia pneumoniae Penyebab Penyakit-Penyakit Kardiovaskuler
Oleh: Drh. Sri Murwani Atinia, M.P.
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Arterosklerosis masih merupakan penyakit yang banyak mendapat perhatian. Sekitar 39% kematian penduduk di UK dan 12 juta di US disebabkan oleh penyakit-penyakit yang ada hubungannya dengan aterosklerosis. Berdasarkan penelitian WHO diperoleh data bahwa 20% kasus kematian di seluruh dunia diakibatkan oleh penyakit yang didasari oleh aterosklerosis seperti stroke, myocard infark (ischemic heart disease). Dilaporkan bahwa lebih dari separo kematian setiap tahun di Amerika disebabkan oleh aterosklrosis, dan lebih dari 500.000 orang meninggal setiap tahun karena infark miokardial. Di Indonesia dilaporkan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit-penyakit kardiovaskuler semakin meningkat setiap tahunnya.

Aterosklerosis merupakan penyakit karena membesar atau menebalnya muskuler arteri, dan karakterstik adanya disfungsi endotel, inflamasi vaskuler, akumulasi lipid, kolesterol, kalsium, debris seluler dalam intima dinding pembuluh darah. Akumulasi tersebut menyebabkan terbentuknya plak, remodeling vaskuler, obstruksi luminal akut atau khronik, abnormalitas aliran darah, dan menurunnya suplai oksigen pada organ target.

Aterosklerosis masih merupakan penyakit yang banyak mendapat perhatian akan tetapi prevalensi aterosklerosis sulit ditentukan, dikarenakan sebagian besar bersifat asimptomatis. Proses aterosklerosis dimulai sejak anak-anak, dan sejak itu perkembangan garis lemak tetap berlangsung. Pernah ditemukan lesi aterosklerotik di orta bayi, dan dikatakan lesi berkembang setelah umur 8-18 tahun, menjadi lesi bentuk lanjut pada umur 25 tahun, dan biasanya manifestasi klinik penyakit akan muncul pada umur 50-60 tahun, yang disebabkan karena terjadinya disrupsi plak. Disrupsi plak aterosklerotik dalam arteri koronari, baik yang disebabkan oleh erosi atau ruptur plak memegang peran dalam perkembangan "sindroma arteri koronari". Sindroma arteri kronari secara klinis tidak terdeteksi, sampai timbulnya stenosis (sumbatan) atau thrombosis, yang melanjut terjadinya gangguan aliran darah dan iskemia miokardial. Secara klinis nampak sebagai "pektoris angina, infark miokardial akut dan kematian mendadak karena penyakit kardiak".

Infark miokardial (IM) diartikan sebagai matinya atau nekrosis sel-sel miokardial, dapat terjadi pada semua umur, tetapi angka kejadian meningkat sesuai dengan bertambahnya umur. Kejadian IM tergantung pada faktor-faktor predisposisi aterosklerosis (hiperlepidemi, diabetes mellitus, hipertensi, merokok, pria, dan keluarga yang mempunyai riwayat penyakit aterosklerotik arteria) (Bajzer, diakses tahun 2004). Akhir-akhir ini banyak diteliti hubungan infark miokardial dengan infeksi mikroorganisme. Agen-agen infeksius yang banyak diteliti dan terbukti dapat menyebabkan aterosklerosis adalah Chlamydia pneumoniae, Herpes simplex virus, Helicobacter pylori, Cytomegalovirus dan bakteri periodontitis. Sebagian besar IM merupakan hasil rupturnya plak aterosklerotik (unstable atherosclerosis plaque), dan jarang terjadi disebabkan adanya thrombus superfisial karena rusaknya endotelium vaskuler. Thrombus intrakoronari menyebabkan penyumbatan atau menyempitnya lumen pembuluh darah.

Chlamydia pneumoniae merupakan bakteri Gram-negatif, patogen, bersifat obligat intraseluler. Infeksi C. pneumoniae umum terjadi, sebagian besar manusia paling sedikit pernah satu kali terinfeksi dalam hidupnya dan reinfeksi sering terjadi. Umumnya infeksi C. pneumoniae bersifat subklinik atau merupakan penyakit respiratori ringan yang bersifat self-limiting. Prevalen pada populasi umum, menunjukkan 40-50% populasi dewasa terdeteksi antibodi terhadap C. pneumoiae dan mempunyai korelasi positif dengan terjadinya penyakit arteri koronari.

Chlamydia pneumonaie dapat menyebabkan baik epidemik maupun endemik infeksi traktus respiratorius di beberapa area di dunia. C. pneumonaie menyebabkan penyakit respirasi bagian atas dan bawah, seperti pneumonia, bronchitis, pharyngitis, sinusitis, baik pada anak mapun dewasa. Infeksi C. pneumonaie bersifat persisten dalam waktu lama. Gejala klinis infeksinya tidak spesifik, batuk merupakan gejala yang paling sering ditemukan dan bersifat khronis.

Pneumonia dan bronchitis merupakan penyakit yang paling sering dihubungkan dengan C. pneumoniae. Meskipun infeksi asimptomatik, tetapi simptom ringan paling sering terjadi. Tidak ada gejala unik dari infeksi pulmonari oleh C. pneumoniae. Batuk merupakan petanda yang sangat sering, dan biasanya lama. Demam sering tidak terlihat saat pemeriksaan, walaupun kemungkinan pernah terjadi. Periode dari onset sampai manifestasi klinik lebih lama dibanding infeksi akut respiratori lainnya. Selain penyakit respiratori akut dan khronik, C. pneumoniae dapat menyebabkan otitis media, chronic obstructive pulmonary disease (COPD), severe systemic infection dan asthma. C. pneumoniae dapat menyebabkan reaksi inflamasi, terjadinya lesi vaskuler, dan menyebabkan penyakit arteri koronari.

Sejak tahun 1988 infeksi oleh C. pneumoniae dihubungkan dengan patogenesis aterosklerosis dan manifestasi klinisnya seperti penyakit jantung koroner, stenosis arteri carotid, aneurisma aortik, oklusi pada arteri di bawah akstremitas, dan stroke. Studi seroepidemiologi menunjukkan adanya hubungan antara antibodi terhadap C. pneumoniae dengan penyakit arteri koronari, infark miokardial, dan penyakit cerebrovaskuler. Terjadi peningkatan titer antibodi terhadap C. pneumoniae dua atau lebih tinggi dibanding individu normal. Organisme C. pneumoniae ditemukan pada lesi aterosklerotik (atheroma).

Penelitian yang pernah kami lakukan, tentang hubungan infeksi C. pneumonaie dengan infark miokardial akut (IMA), memberikan hasil, bahwa dari 27 pasien IMA (dari Rumah Sakit Saiful Anwar dan Lavalette, Malang) 92,57% terinfeksi C. pneumonaie. Ditemukan bahwa C. pneumonaie dapat sebagai independent risk factor, dapat bersama salah satu faktor resiko lain (merokok, hipertensi, hiperlipidemi, diabetes mellitus), dan sebagian besar merupakan infeksi multipel dengan mikroorganisme lain yang telah diduga menyebabkan aterosklerosis (Cytomegalovirus, Streptococcus mutans, Helicobacter pylori, Porphiromonas gingivalis).

Dari pustaka-pustaka di atas memberikan gambaran bagi kita semua, bahwa penyakit-penyakit kardiovaskuler tidak hanya disebabkan oleh hiperlipidemi, hipertensi, merokok, diabetes mellitus, genetik, tetapi dapat juga disebabkan karena penyakit infeksi. Penyakit-penyakit yang didasari oleh bakteri-bakteri periodontal (penyebab terbentuknya karang gigi), penyakit saluran pernafasan khronik dapat menyebabkan penyakit kardiovaskuler.

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by