|
Seri
Continuing Education
Toxoplasmosis
Oleh: Drh. Sri Murwani, M.P.
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang

Toxoplasmosis
merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh toxoplasma,
suatu protozoa parasitik yang bersifat obligate intracellular.
Toxoplasmosis cukup familiar dan menyebabkan fobia masyarakat
Indonesia karena terkenal dapat menyebabkan kelainan bawaan
(kongenital) pada bayi-bayi yang lahir dari ibu terinfeksi
toxoplasma yang telah dikenal dapat menyebabkan kelainan kongenital.
Toxoplasmosis bersifat zoonosis, karena dapat menyebabkan
penyakit baik pada hewan maupun manusia. Di dunia, toxoplasmosis
merupakan penyakit infeksi parasit yang paling sering terjadi
pada manusia, tetapi jarang menimbulkan penyakit serius, karena
biasanya bersifat self limited pada individu sehat. Gondii
merupakan satu-satunya spesies toxoplasma, sehingga disebut
Toxoplasma gondii. Kucing merupakan hospes primernya dan merupakan
sumber utama penyakit.
Siklus
hidup toxoplasma ada dua fase, yaitu fase intestinal dan ekstraintestinal.
Fase intestinal hanya terjadi dalam intestinum kucing. Enzim
pencernaan dihasilkan toxoplasma untuk menembus dinding intestinum.
Reproduksi parasit menghasilkan berjuta-juta oocyst yang tidak
infeksius, yang akan diekskresikan bersama feses. Di luar
tubuh kucing, oocyst mengalami sporulasi (sporogony) yang
terjadi paling lama 21 hari, dan menghasilkan oocyst infeksius.
Pada daerah dengan suhu panas dan kelembaban tinggi, oocyst
dapat tahan hidup sampai satu tahun. Fase ekstraintestinal
dapat terjadi pada semua hewan atau manusia yang terinfeksi.
Pada fase ini, bentuk tachyzoite (trophozoite) dapat menyebar
ke berbagai organ melalui sirkulasi. Dalam jaringan akan berubah
menjadi zoithocyste (bradyzoite) yang dapat menjadi persisten
selama hidup, menjadi bentuk infeksi khornik atau laten.
Penyebaran
toxoplasma dapat melalui berbagai cara. Oocyst feses kucing
dapat menginfeksi peroral melalui makanan atau minuman yang
tercemar, infeksi secara langsung melalui tangan yang tercemar,
atau perinhalasi. Stadium trophozoite dapat ditemukan pada
sistem sirkulasi, sehingga dapat menyebar melalui transfusi
darah, transplantasi organ, air liur, air susu. Pada stadium
bradyzoit, toxoplasma dapat menyebar melalui makan daging
yang kurang matang atau melalui transplantasi organ. Toxoplasma
dapat juga ditularkan secara vertikal dari ibu ke fetusnya
(transplasental).
Gejala
toxoplasmosis timbul terutama pada individu/hewan yang mengalami
gangguan sistem kekebalan tubuh, tetapi tidak patognomonik,
sehingga dapat menyulitkan diagnosa. Pada individu immunocompromised,
toxoplasmosis biasanya dapat menjadi fatal dan dapat menyebabkan
kematian, karena menyerang berbagai organ-organ penting. Manifestasi
klinis tergantung pada organ yang terinfeksi, misalnya saluran
nafas pneumonia, bronchitis, laryngitis (batuk-batuk, sesak
nafas), hepatitis (muntah, diare, joundice), jantung (sakit
dada, sesak nafas), sistem saraf (inkoordinasi, retardasi
mental), dll.
Infeksi
aktif pada ibu hamil, dapat menyebabkan abortus atau kelainan
kongenital pada bayinya. Infeksi
pada trismester 1 atau 2 jarang terjadi, tetapi menimbulkan
gejala yang paling berat. Kehamilan dapat mengalami abortus
atau bayi lahir premature. Sebanyak 75% bayi lahir tanpa gejala,
tetapi penyakit tetap bersifat progresif apabila tidak diterapi;
17% terlihat gejala hydrocephalus, khorioretinitis, pengapuran
intrakranial; 8% mengalami kerusakan sistem saraf pusat, dan
anak mengalami retardasi mental dan fisik. Infeksi toxoplasma
pada trismester 3 paling sering terjadi, dan gejalanya sangat
ringan atau tidak menimbulkan gejala yang berarti. Wanita
muda yang pernah terinfeksi sebelum hamil tidak akan menularkan
toxoplasma ke fetusnya apabila hamil, kecuali apabila pada
titer antibodinya ditemukan titer tinggi IgM (bukan IgG).
Pada individu yang pernah terinfeksi toxoplasma akan memperoleh
long-live immunity terhadap reinfeksi, kecuali pada individu
immunocompromised, toxoplasmosis dapat menjadi laten.
Diagnosa
toxoplasma sulit ditentukan apabila hanya berdasar gejala
klinis, karena gejalanya sering mirip dengan gejala penyakit
lainnya (non-patognomonik). Gold standard diagnosis untuk
toxoplasmosis sampai sekarang adalah pengukuran titer antibodi.
Ditemukannya IgM merupakan petanda infeksi akut, baru saja
terjadi dan merupakan bentuk infeksi aktif. IgG merupakan
petanda infeksi telah berlangsung lama atau khronis. Biopsi
jaringan kadang dilakukan untuk menemukan oocyst, tetapi hal
ini sulit, dapat menimbulkan rasa sakit dan komplikasi. Pemeriksaan
cairan amnion, dapat membantu resiko terinfeksinya fetus pada
ibu yang didiagnosa positif terinfeksi, tetapi hal ini tidak
dianjurkan karena dapat menimbulkan komplikasi. Riwayat penyakit
dan riwayat pengobatan kadang membantu diagnosa.
Beberapa
metode pencegahan terhadap infeksi yang dianjurkan, antara
lain:
1. Memasak bahan makanan dengan benar. Pemanasan pada suhu
700C selama 15- 30 menit dapat mematikan oocyst
2. Pengasapan, pengasaman, pengasinan makanan tidak dapat
mematikan kista
3. Lalapan sebaiknya dicuci terlebih dahulu sebelum dimakan
4. Cuci tangan sebelum makan
5. Pemeliharaan kucing secara baik: buang/bakar kotoran sebelum
kista mengalami sporulasi (sebelum 4 hari); bakar semua barang
terkontaminasi kista
6. Pendonor darah/organ sebaiknya dilakukan screening test
untuk toxoplasma
7.
Dilakukan pemeriksaan serologis pada wanita yang merencanakan
hamil
8. Hewan atau individu yang terlihat sakit sebaiknya segera
dibawa ke dokter hewan/dokter.
Untuk
terapi, obat yang biasanya dipergunakan adalah pyrimethamine
yang dikombinasi dengan preparat sulfa. Obat tersebut toksik
untuk kucing, sehingga biasanya diberikan dalam dosis kecil.
Asam folat atau multivitamin dapat diberikan untuk memperbaiki
kondisi tubuh. Kortikosteroid kadang diberikan dengan dosis
yang sesuai, untuk menurunkan reaksi inflamasi. Obat lain
yang sering digunakan adalah spiramisin, klindamisin.
|