| Profil
Drh.
Nemu Hermawan
"Aku sudah cocok di sini"

Drh. Nemu Hermawan
Jalan
tanjak berliku membelah gunung Tengger-Bromo, dilalui redaksi
koran dengan kagum. Ditambah dengan panorama indah sepanjang
jalan, hijau subur rumput gajah menghias kaki langit dan suhu
yang mulai terasa menggigit tulang, mempertebal keyakinan
redaksi sedang menuju lokasi yang cocok untuk budidaya sapi
perah.
KUD
"Sembada" Puspo, masih terletak di kabupaten Pasuruan bagian
Timur terdiri dari 9 desa dengan rataan produksi air susu
14 ton liter perhari dihasilkan dari induk yang tersebar di
hampir semua desa. Di KUD inilah drh. Nemu Hermawan mengabdikan
profesinya sejak September 2001, sebulan setelah mengucapkan
sumpah dokter hewan. Jabatan sebagai tenaga lapangan tunggal
diembannya dengan penuh tanggung jawab. Dengan honda Win yang
setia menemaninya sejak awal karirnya, beliau menjelajahi
seluruh wilayah kerja kecamatan Puspo. "I work 24 hours
a day, 7 days a week", jawabnya ketika ditanya jam kerjanya.
Padahal kontur tanahnya sangat berbukit dan sulit. Apalagi
ketika harus mengadakan kunjungan ke Tengger, tempat yang
elok tetapi penuh tantangan. Maka tak heran jika terjatuh
dari sepeda motornya merupakan hal yang lumrah saja.
Meski
tidak sampai ke Tengger, redaksi berkesempatan ikut mencicipi
rute sehari-harinya yang cukup mendebarkan, apalagi hujan
lebat sempat mengguyur lama. Jalan tanah menjadi sangat licin
dan berbahaya. Tetapi hal itu tidak menjadi kendala untuk
memenuhi kewajibannya sebagai dokter hewan. Padahal sejak
tahun 2004 beliau sudah diangkat menjadi kepala bagian unit
peternakan dan membawahi 8 orang yang sebagian diantaranya
adalah seorang paramedis, 3 orang inseminator dan seorang
recorder.
Selesai
menuntaskan kasus retensi plasenta di desa Jimbaran, kami
menuju desa Tanjek untuk melihat sapi yang mengalami indigesti.
Sepanjang jalan, tak henti-hentinya penduduk menyapa, memberi
salam atau hanya mengangkat tangan. Herannya, setiap kali
menyapa pak dokter, demikian beliau biasa dipanggil, selalu
dibalas dengan menyebut namanya. Diakuinya, ia kenal hampir
semua peternak di wilayah kerjanya. Senyum dan candanya tak
pernah lekang kala beliau menangani kasus. Intruksi dan arahan
kepada peternak dikemas dalam bahasa yang sangat sederhana,
sehingga mudah bagi peternak untuk memahaminya.
Suami
dari Tri Herawati, SKH ini, yang dinikahinya pada tanggal
18 Januari 2001, tidak pernah menarik dana apapun dari peternak,
karena sudah menjadi tanggungan KUD. Tetapi beliau selalu
menerima apa saja seperti ketika peternak memberi sebatang
rokok, hasil panen atau mengajaknya makan "aron" (nasi khas
Tengger) sekedar sebagai tanda terima kasih, malah itulah
tali asih yang mendekatkan rasa dengan peternak.
Menjadi
dokter hewan lapangan adalah impinnya sejak menjadi mahasiswa.
Merasa sangat menikmati pekerjaannya, maka kini secara bertahap
beliau sudah memiliki 6 ekor sapi perah dengan sistim gaduh
dari KUD. Mencari rumput sendiri sering dilakoninya, bahkan
saking dekatnya dengan si Raja Kaya, beliau dapat mengetahui
jenis rumput mana yang manjadi favorit masing-masing sapi.
Seiring
dengan ekspansi KUD, baliau tidak saja bertanggung jawan di
wilayah kecamatan Puspo, tapi juga sampai ke Tosari dan Pasrepan,
kecamatan yang berdampingan. Cukup berat dan lebar tanggung
jawabnya, tetapi itu semua tidak menyurutkan semangatnya menjadi
dan tetap menjadi dokter hewan di pelosok.
Bapak
yang masih merindukan momongan ini, sangat mengharapkan perhimpunannya
(PDHI,red) sering mangadakan kumpul-kumpul untuk membahas
penyakit yag sedang "mode" agar dapat memperluas wawasan dokter
hewan anggotanya.
Di
penghujung rute yang cukup melelahkan ini, redaksi dipersilahkan
masuk kedalam rumahnya yang baru selesai dibangun beberapa
bulan lampau. Bersama istri dan Cokli, seekor kucing non ras
yang dipeliharanya sejak kecil, kami beristirahat sejenak
sebelum balik pulang ke Malang. "Kalau boleh, aku ingin tinggal,
punya sapi sekaligus menjadi dokter hewan disini saja. Rasanya
sudah cocok dengan hatiku", katanya mentap mengakhiri perjumpaan
ini. (Liz)
|