Edisi 007
Januari 2006

Artikel Utama
Wabah Flu Burung di Indonesia

Kiwi Cross

Virgin Coconut Oil

Mycoplasma synovie

Profil
Drh. Iman Setyowati Koesrinaldiati

Drh. Nemu Hermawan


Serbet (seputar berita terkini)
PPUN dan Asia Livestock 2005


Opini
Isu CLQ apanya Virus AI?

Konsultasi
Myasis pada Anjing

Bogel Lahirkan Anak ke Dua

Kolom PIDHI
Dana Sosial KDHI


Seri Continuing Education
Toxoplasmosis

Dari anda
Love Your Job

Profil

Drh. Nemu Hermawan
"Aku sudah cocok di sini"


Drh. Nemu Hermawan

Jalan tanjak berliku membelah gunung Tengger-Bromo, dilalui redaksi koran dengan kagum. Ditambah dengan panorama indah sepanjang jalan, hijau subur rumput gajah menghias kaki langit dan suhu yang mulai terasa menggigit tulang, mempertebal keyakinan redaksi sedang menuju lokasi yang cocok untuk budidaya sapi perah.

KUD "Sembada" Puspo, masih terletak di kabupaten Pasuruan bagian Timur terdiri dari 9 desa dengan rataan produksi air susu 14 ton liter perhari dihasilkan dari induk yang tersebar di hampir semua desa. Di KUD inilah drh. Nemu Hermawan mengabdikan profesinya sejak September 2001, sebulan setelah mengucapkan sumpah dokter hewan. Jabatan sebagai tenaga lapangan tunggal diembannya dengan penuh tanggung jawab. Dengan honda Win yang setia menemaninya sejak awal karirnya, beliau menjelajahi seluruh wilayah kerja kecamatan Puspo. "I work 24 hours a day, 7 days a week", jawabnya ketika ditanya jam kerjanya. Padahal kontur tanahnya sangat berbukit dan sulit. Apalagi ketika harus mengadakan kunjungan ke Tengger, tempat yang elok tetapi penuh tantangan. Maka tak heran jika terjatuh dari sepeda motornya merupakan hal yang lumrah saja.

Meski tidak sampai ke Tengger, redaksi berkesempatan ikut mencicipi rute sehari-harinya yang cukup mendebarkan, apalagi hujan lebat sempat mengguyur lama. Jalan tanah menjadi sangat licin dan berbahaya. Tetapi hal itu tidak menjadi kendala untuk memenuhi kewajibannya sebagai dokter hewan. Padahal sejak tahun 2004 beliau sudah diangkat menjadi kepala bagian unit peternakan dan membawahi 8 orang yang sebagian diantaranya adalah seorang paramedis, 3 orang inseminator dan seorang recorder.

Selesai menuntaskan kasus retensi plasenta di desa Jimbaran, kami menuju desa Tanjek untuk melihat sapi yang mengalami indigesti. Sepanjang jalan, tak henti-hentinya penduduk menyapa, memberi salam atau hanya mengangkat tangan. Herannya, setiap kali menyapa pak dokter, demikian beliau biasa dipanggil, selalu dibalas dengan menyebut namanya. Diakuinya, ia kenal hampir semua peternak di wilayah kerjanya. Senyum dan candanya tak pernah lekang kala beliau menangani kasus. Intruksi dan arahan kepada peternak dikemas dalam bahasa yang sangat sederhana, sehingga mudah bagi peternak untuk memahaminya.

Suami dari Tri Herawati, SKH ini, yang dinikahinya pada tanggal 18 Januari 2001, tidak pernah menarik dana apapun dari peternak, karena sudah menjadi tanggungan KUD. Tetapi beliau selalu menerima apa saja seperti ketika peternak memberi sebatang rokok, hasil panen atau mengajaknya makan "aron" (nasi khas Tengger) sekedar sebagai tanda terima kasih, malah itulah tali asih yang mendekatkan rasa dengan peternak.

Menjadi dokter hewan lapangan adalah impinnya sejak menjadi mahasiswa. Merasa sangat menikmati pekerjaannya, maka kini secara bertahap beliau sudah memiliki 6 ekor sapi perah dengan sistim gaduh dari KUD. Mencari rumput sendiri sering dilakoninya, bahkan saking dekatnya dengan si Raja Kaya, beliau dapat mengetahui jenis rumput mana yang manjadi favorit masing-masing sapi.

Seiring dengan ekspansi KUD, baliau tidak saja bertanggung jawan di wilayah kecamatan Puspo, tapi juga sampai ke Tosari dan Pasrepan, kecamatan yang berdampingan. Cukup berat dan lebar tanggung jawabnya, tetapi itu semua tidak menyurutkan semangatnya menjadi dan tetap menjadi dokter hewan di pelosok.

Bapak yang masih merindukan momongan ini, sangat mengharapkan perhimpunannya (PDHI,red) sering mangadakan kumpul-kumpul untuk membahas penyakit yag sedang "mode" agar dapat memperluas wawasan dokter hewan anggotanya.

Di penghujung rute yang cukup melelahkan ini, redaksi dipersilahkan masuk kedalam rumahnya yang baru selesai dibangun beberapa bulan lampau. Bersama istri dan Cokli, seekor kucing non ras yang dipeliharanya sejak kecil, kami beristirahat sejenak sebelum balik pulang ke Malang. "Kalau boleh, aku ingin tinggal, punya sapi sekaligus menjadi dokter hewan disini saja. Rasanya sudah cocok dengan hatiku", katanya mentap mengakhiri perjumpaan ini. (Liz)

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by