| Profil
Drh.
Iman Setyowati Koesrinaldiati
Handal dan Menyejukkan

Drh.
Iman bersama suami tercinta, Drh. Djoko Sutono
Ditemui
di rumah prakteknya yang berwarna putih bersebelahan dengan
rumah tinggalnya, dokter Iman, demikian ia biasa dipanggil
oleh kliennya, menyongsong redaksi koran dengan senyum khasnya
yang renyah. Tempat yang dipakai khusus untuk praktek ini
sangat nyaman dan bercat putih bersih. Tadinya adalah sebuah
rumah biasa yang dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga ruang
pemeriksan terpisah dengan ruang operasi dan ruang rontgen.
Di bagian belakang masih terdapat pula cukup tempat untuk
pasien yang dirawatinapkan.
Memiliki
klinik sendiri memang obsesi yang beliau pupuk sejak tahun
1989 ketika pertama kali bersama sejawat lainnya buka praktek
di depan rumahnya sambil momong anak. Sebagai seorang dokter
hewan yang sekaligus ibu rumah tangga, beliau tetap ingin
membesarkan sendiri kedua putranya dan tetap menjalankan profesinya
sebagai dokter hewan. Bukanlah hal yang aneh waktu itu apabila
beliau praktek sambil ditemani kedua putranya yang masih balita.
Ya, sejak kecil beliau memang hanya punya dua pilihan cita-cita,
menjadi dokter anak atau dokter hewan.
Bercerita
tentang masa kecilnya, drh. Iman Setyowati Koesrinaldiati,
lahir di Mojokerto pada tanggal 17 Desember 1961 tetapi sejak
bayi telah diboyong orang tuanya ke pulau dewata tepatnya
Singaraja. Disinilah sulung dari dua bersaudara mempunya beberapa
jenis hewan pelirahaan seperti kambing, anjing, ayam (si Pece)
dan burung yang menemani hari-harinya. Bahkan kedekatan rasa
ini pernah membuahkan buliran air mata ketika salah satu dari
mereka hilang. Sebuah mozaik kenangan yang membekas indah
dan membentuk motivasi masa depan.
Usia
sekolah menengah pertama dan atas dihabiskan di kota pahlawan
kemudian dilanjutkan ke jenjang universitas pada tahun 1980,
FKH UNAIR adalah pilihan pertamanya. Sejak mahasiswa, klinik
selalu membuatnya betah dan bergairah meskipun bentakan sering
diterima dari para senior. Lulus tahun 1986 dan langsung disunting
pada tahun yang sama oleh kakak kelasnya, drh. Djoko Sutono.
Sekarang
ibu dari Rizki Pratama Ramadhana dan Dwilistyo Raharjo, yang
sejak tahun 1996 telah praktek tunggal dan dokling (dokter
keliling), tinggal memantapkan langkah-langkahnya, tidak mudah
memang karena kendala sering menghadang. Tetapi dengan empati
tulus yang sangat dalam pada pasien, beliau selalu menemukan
solusi yang tepat. Sering kedekatan pada pemilik dan pasien
menjadikan beliau terjaga pada malam hari, memikirkannya dan
menyebutnya dalam do'a-do'a khusyuk malam hari.
Banyak
suka dan duka ketika harus berhadapan dengan pemilik hewan
kesayangan ini. Umpatanpun pernah dilemparkan klien menembus
ruas hatinya dan beliau hanya dapat sesenggukan sendiri dalam
mobil ketika meninggalkan rumah tersebut. Bukannya putus asa
dan dendam yang bersarang, tetapi lecut untuk menjadi lebih
baiklah yang diniatkannya.

Drh.
Iman menangani pasien dengan senyumnya yang menyejukkan.
Bermodalkan
itulah, akhirnya pada tahun 2001, beliau membangun tempat
praktek khusus disebelah rumahnya, dilengkapi dengan alat
rontgen, oxygen, temperature dan pulsus monitor. Semuanya
masih ditambah dengan kehausannya membaca, mengikuti berbagai
continuing education dan kerendahan hati untuk berdiskusi
dengan para klien yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu.
Itu semua diramu dan dikembangkan bersama dengan pegalaman
dan memakainya sebagai alat pemicu profesionalisme.
Drh.
Iman memang sudah berkibar dengan teguh tetapi beliau tidak
lantas tinggi hati dan ingin berjalan sendiri. Selain ingin
mempunyai klinik yang representatif, beliau masih merindukan
para dokter hewan dapat praktek bersama dengan semangat yang
positif, saling melindungi, saling berbagi. Malah beliau mengharapkan
PDHI bisa sering mengadakan continuing education untuk meningkatkan
wawasan dokter hewan.
Hari-harinya
memang sangat padat dan melelahkan, dari pagi hingga malam,
tetapi senyum dan sapaan yang hangat tidak pernah terlepas
dari wajahnya, pancaran mata hatinya yang tegas namun lembut
selalu terbias lewat tutur katanya yang menyejukkan. "Aku
bersyukur dan bangga menjadi dokter hewan", pungkasnya yakin.
Sebuah kalimat tanpa tanding. (Liz)
|