Edisi 007
Januari 2006

Artikel Utama
Wabah Flu Burung di Indonesia

Kiwi Cross

Virgin Coconut Oil

Mycoplasma synovie

Profil
Drh. Iman Setyowati Koesrinaldiati

Drh. Nemu Hermawan


Serbet (seputar berita terkini)
PPUN dan Asia Livestock 2005


Opini
Isu CLQ apanya Virus AI?

Konsultasi
Myasis pada Anjing

Bogel Lahirkan Anak ke Dua

Kolom PIDHI
Dana Sosial KDHI


Seri Continuing Education
Toxoplasmosis

Dari anda
Love Your Job

Profil

Drh. Iman Setyowati Koesrinaldiati
Handal dan Menyejukkan


Drh. Iman bersama suami tercinta, Drh. Djoko Sutono

Ditemui di rumah prakteknya yang berwarna putih bersebelahan dengan rumah tinggalnya, dokter Iman, demikian ia biasa dipanggil oleh kliennya, menyongsong redaksi koran dengan senyum khasnya yang renyah. Tempat yang dipakai khusus untuk praktek ini sangat nyaman dan bercat putih bersih. Tadinya adalah sebuah rumah biasa yang dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga ruang pemeriksan terpisah dengan ruang operasi dan ruang rontgen. Di bagian belakang masih terdapat pula cukup tempat untuk pasien yang dirawatinapkan.

Memiliki klinik sendiri memang obsesi yang beliau pupuk sejak tahun 1989 ketika pertama kali bersama sejawat lainnya buka praktek di depan rumahnya sambil momong anak. Sebagai seorang dokter hewan yang sekaligus ibu rumah tangga, beliau tetap ingin membesarkan sendiri kedua putranya dan tetap menjalankan profesinya sebagai dokter hewan. Bukanlah hal yang aneh waktu itu apabila beliau praktek sambil ditemani kedua putranya yang masih balita. Ya, sejak kecil beliau memang hanya punya dua pilihan cita-cita, menjadi dokter anak atau dokter hewan.

Bercerita tentang masa kecilnya, drh. Iman Setyowati Koesrinaldiati, lahir di Mojokerto pada tanggal 17 Desember 1961 tetapi sejak bayi telah diboyong orang tuanya ke pulau dewata tepatnya Singaraja. Disinilah sulung dari dua bersaudara mempunya beberapa jenis hewan pelirahaan seperti kambing, anjing, ayam (si Pece) dan burung yang menemani hari-harinya. Bahkan kedekatan rasa ini pernah membuahkan buliran air mata ketika salah satu dari mereka hilang. Sebuah mozaik kenangan yang membekas indah dan membentuk motivasi masa depan.

Usia sekolah menengah pertama dan atas dihabiskan di kota pahlawan kemudian dilanjutkan ke jenjang universitas pada tahun 1980, FKH UNAIR adalah pilihan pertamanya. Sejak mahasiswa, klinik selalu membuatnya betah dan bergairah meskipun bentakan sering diterima dari para senior. Lulus tahun 1986 dan langsung disunting pada tahun yang sama oleh kakak kelasnya, drh. Djoko Sutono.

Sekarang ibu dari Rizki Pratama Ramadhana dan Dwilistyo Raharjo, yang sejak tahun 1996 telah praktek tunggal dan dokling (dokter keliling), tinggal memantapkan langkah-langkahnya, tidak mudah memang karena kendala sering menghadang. Tetapi dengan empati tulus yang sangat dalam pada pasien, beliau selalu menemukan solusi yang tepat. Sering kedekatan pada pemilik dan pasien menjadikan beliau terjaga pada malam hari, memikirkannya dan menyebutnya dalam do'a-do'a khusyuk malam hari.

Banyak suka dan duka ketika harus berhadapan dengan pemilik hewan kesayangan ini. Umpatanpun pernah dilemparkan klien menembus ruas hatinya dan beliau hanya dapat sesenggukan sendiri dalam mobil ketika meninggalkan rumah tersebut. Bukannya putus asa dan dendam yang bersarang, tetapi lecut untuk menjadi lebih baiklah yang diniatkannya.


Drh. Iman menangani pasien dengan senyumnya yang menyejukkan.

Bermodalkan itulah, akhirnya pada tahun 2001, beliau membangun tempat praktek khusus disebelah rumahnya, dilengkapi dengan alat rontgen, oxygen, temperature dan pulsus monitor. Semuanya masih ditambah dengan kehausannya membaca, mengikuti berbagai continuing education dan kerendahan hati untuk berdiskusi dengan para klien yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Itu semua diramu dan dikembangkan bersama dengan pegalaman dan memakainya sebagai alat pemicu profesionalisme.

Drh. Iman memang sudah berkibar dengan teguh tetapi beliau tidak lantas tinggi hati dan ingin berjalan sendiri. Selain ingin mempunyai klinik yang representatif, beliau masih merindukan para dokter hewan dapat praktek bersama dengan semangat yang positif, saling melindungi, saling berbagi. Malah beliau mengharapkan PDHI bisa sering mengadakan continuing education untuk meningkatkan wawasan dokter hewan.

Hari-harinya memang sangat padat dan melelahkan, dari pagi hingga malam, tetapi senyum dan sapaan yang hangat tidak pernah terlepas dari wajahnya, pancaran mata hatinya yang tegas namun lembut selalu terbias lewat tutur katanya yang menyejukkan. "Aku bersyukur dan bangga menjadi dokter hewan", pungkasnya yakin. Sebuah kalimat tanpa tanding. (Liz)

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by