Edisi 007
Januari 2006

Artikel Utama
Wabah Flu Burung di Indonesia

Kiwi Cross

Virgin Coconut Oil

Mycoplasma synovie

Profil
Drh. Iman Setyowati Koesrinaldiati

Drh. Nemu Hermawan


Serbet (seputar berita terkini)
PPUN dan Asia Livestock 2005


Opini
Isu CLQ apanya Virus AI?

Konsultasi
Myasis pada Anjing

Bogel Lahirkan Anak ke Dua

Kolom PIDHI
Dana Sosial KDHI


Seri Continuing Education
Toxoplasmosis

Dari anda
Love Your Job


Artikel

Pengendalian Kasus Mycoplasma synovie pada Ayam
Oleh: Drh. Ova Indriana

Sistem pemeliharaan ayam petelur dengan berbagai kelompok umur (multi age system) menjadi faktor penyebab seringnnya mucul kasus ini. Secara umum ada dua bentuk penyakit berdasarkan gejala klinis yang menyertainya. Bentuk sinovitis dan bentuk pernapasan. Pada kasus di lapangan sering ditemukan bentuk sinovitis. Pada umumnya ayam petelur dipelihara dari umur 1 hari sampai 60 hari pada kandang postal secara berkelompok. Sehingga diperlukan kejelian untuk mengetahui sesegerah mungkin jika ditemukan gejala klinis yang cukup spesifik untuk meneguhkan diagnosa.

Penulis mengamati bahwa kejadian penyakit ini secara berbeda terjadi pada fram ayam petelur, akan tetapi dengan pola kejadian yang hampir sama pada tiap-tiap fram. Diperlukan pencatatan yang teliti untuk mengantisipasi kejadian untuk periode mendatang. Seperti kasus yang penulis amati, kasus pertama muncul pada saat ayam berumur 69 hari.

Gejala klinis yang paling mudah diamati adalah terjadinya kepincangan, yang disebabkan oleh terjadinya lesi pada membran sinovial dari persendian dan pembungkus tendo, dengan muda apabila kita raba maka telapak kaki ayam akan membengkak dan bila dibuka akan berisi eksudat. Mula-mula pada hari pertama kita akan temukan 1 sampai 5 ekor ayam dengan kondisi pincang dan pada hari berikutnya kasus yang lebih banyak. Amati bagian dalam sayap maka akan ditemukan pula pembengkan.

Secara umum ayam menjadi lumpuh atau malas berjalan, dehidrasi dan lemah. Terjadi diare dan faeces berwarna hijau dan bercampur asam urat berwarna putih. Pertumbuhan ayam akan terganggu disertai bulu yang berdiri.

PENGENDALIAN DAN PENGOBATAN
Sesegera mungkin isolasi ayam yang menunjukkan gejala klinis seperti tersebut di atas. Berikut beberapa antibiotika yang dapat menjadi pilihan : Doxlcicline, Erytromycin, Spyramycin dan Tylosin. Menggunakan dosis maksimal yang dianjurkan selama 5 sampai 7 hari. Pengobatan dengan dosis yang tepat akan diikuti dengan fase kesembuhan akan tetapi sinovitis akan tetap berlangsung sehingga ayam akan semakin kurus dan terganggu pertumbuhannya. Penting juga untuk terus menjaga hygiene kandang dengan rutin melakukan semprot dengan desinfektan. Pada kasus yang berat penulis melakukan culling sekitar 3% dari total populasi.

PERENCANAAN UNTUK PERIODE SELANJUTNYA
Setelah ayam dipindahkan dari kandang postal ke kandang batereo, maka saatnya untuk mempersiapkan periode selanjutnya. Periode istirahat/kosong kandang minimal 1 bulan. Desinfeksi yang benar sangat dianjurkan untuk menghindari terulangnya kasus yang sama. Pencatatan kejadian kasus penyakit periode sebelumnya sangat diperlukan. Seperti kasus yang penulis amati terjadi pada hari ke 69, maka pada H-7 yaitu hari ke 62 mulai diberikan antibiotika lewat pakan. Pengamatan yang teliti harus terus dilakukan menginggat kasus yang sama biasanya muncul pada umur yang sama. Desinfeksi dan sanitasi lingkungan tetap harus dilakukan. Pencatatan riwayat penyakit yang lengkap akan sangat membantu dalam peneguhan diagnosa dan penanggulangan kasus ini menginggat pencegahan dengan cara vaksinasi belum memberikan hasil yang memuaskan.

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by