Edisi 007
Januari 2006

Artikel Utama
Wabah Flu Burung di Indonesia

Kiwi Cross

Virgin Coconut Oil

Mycoplasma synovie

Profil
Drh. Iman Setyowati Koesrinaldiati

Drh. Nemu Hermawan


Serbet (seputar berita terkini)
PPUN dan Asia Livestock 2005


Opini
Isu CLQ apanya Virus AI?

Konsultasi
Myasis pada Anjing

Bogel Lahirkan Anak ke Dua

Kolom PIDHI
Dana Sosial KDHI


Seri Continuing Education
Toxoplasmosis

Dari anda
Love Your Job


Artikel

KIWI CROSS® - Bukti Inovasi Tiada Henti
Oleh: Deddy F. Kurniawan

Artikel ini tidak berbicara tentang seekor unggas yang terkenal karena hampir punah dan sekarang menjadi icon New Zealand, bukan juga tentang buah yang rasanya mirip dengan markisa. Kita akan sedikit membahas tentang sejarah inovasi dalam dunia peternakan khususnya DAIRY FARMING di New Zealand (NZ).


Heifer hasil Kiwi Cross Bull

Sejarah dairy farming di New Zealand dimulai lebih dari 100 tahun yang lalu ketika imigran dari eropa menginjakkan kakinya di negara yang populasi sapinya 5 kali lipat dibanding total penduduknya dan populasi dombanya 10 kali lipat dibanding jumlah manusia yang tinggal di negara ini. Sehingga tidak heran jika pada saat mendengar kata New Zealand, salah satu yang kita bayangkan adalah New Zealand Milk karena memang 90% farming product yang dihasilkan negara ini diekspor keseluruh dunia termasuk Indonesia. Pada saat artikel ini ditulis, dairy farming New Zealand sudah sampai pada tahap komputerisasi medis dan individual recording terhadap kualitas setiap sapi yang dilahirkan. Setiap sapi memiliki ID tag dan dokumen riwayat hidup sejak dia dilahirkan. Kondisi New Zealand memungkinkan mereka untuk melakukan sistem peternakan yang sangat efisien. Dukungan pemerintah dan teknologi mendorong mereka untuk melakukan sistem peternakan yang lebih maju daripada Indonesia. Saat ini rata-rata populasi sapi setiap farm berjumlah 250 ekor dan hanya dikelola oleh satu orang (idealnya, 1 orang mengelola sekitar 200-300 ekor. Bandingkan dengan Indonesia!).

Bagi kita di Indonesia, Holstein-Friesian (FH) adalah primadona breed sapi perah dan mungkin kita tidak pernah berpikir selainnya meskipun kita tahu FH bukanlah satu-satunya breed sapi perah. Kita akan sedikit mundur kebelakang ke tahun 60-an dan silahkan anda membayangkan apa yang terjadi pada saat itu di Indonesia sedangkan saya akan mengajak anda untuk membayangkan apa yang terjadi di New Zealand. Pada saat itu Indonesia sedang mengalami konflik politik yang luar biasa sedang dairy farmer di New Zealand sudah mengalami kemajuan industri peternakan sapi perah yang luar biasa pula. FH, Jersey, Ayrshire, Guernsey dan Milking Shorthorn adalah breed yang digunakan oleh peternak. FH dan Jersey mendominasi dan peternak cenderung memurnikan breed itu dengan karakteristiknya, sedangkan persilangan adalah tabu. Memasuki tahun 70-an, paradigma tentang susu mulai berubah dan konsumen sudah mengenal milk solid kemudian menuntut kebutuhaan itu pada peternak.

Masing-masing breed memiliki karakteristik yang berbeda. FH terkenal dengan volume produksinya yang besar namun pengalaman di NZ menunjukkan mereka lebih sering mengalami masalah pada kuku dan kaki karena ukuran tubuhnya yang besar serta membutuhkan volume pakan yang juga sangat besar. Jersey memiliki ukuran lebih kecil sehingga kebutuhan pakan lebih sedikit, volume susu yang dihasilkan juga lebih kecil namun memiliki milk solid lebih baik dibanding FH serta memiliki kuku yang lebih kuat. Ayrshire lebih mirip kepada FH namun tidak sebaik FH. Sedang Guernsey dan Milking Shorthorn tidak terlalu populer karena tidak mampu memenuhi selera konsumen. Tuntutan konsumen membuat mereka berpikir bagaimana mendapatkan figur sapi yang lebih baik yang memenuhi keinginan konsumen tersebut, maka ide persilanganpun mulai dilakukan.

Sejak akhir 70-an dan awal 80-an, persilangan adalah lumrah untuk mendapat figur sapi dengan karakteristik yang diinginkan. Hampir setiap peternak melakukan persilangan pada sapinya meskipun banyak juga yang lebih tertarik untuk tetap memurnikan. Mereka menginginkan figur sapi yang tidak terlalu besar, tidak banyak masalah kuku dan kaki (karena mereka harus berjalan jauh setiap hari dari padang gembalaan menuju tempat pemerahan dan sebaliknya), milk solid tinggi, mudah dihandle, temperamen baik dan sebagainya lalu akhirnya sampai hari ini kebanyakan sapi New Zealand adalah sapi hasil persilangan selama puluhan tahun tersebut dan dikenal dengan Cross Breed, namun sampai akhir 90-an pengembangan cross breed baru terbatas pada sapi betina. Sapi cross breed jantan biasanya mengakhiri perjalanan hidupnya di atas meja makan kita sebagai steak, soussage, burger atau produk lainnya. KIWI CROSS® adalah nama yang diberikan pada Cross Breed Bull yang sedang dikembangkan oleh Livestock Improvement Corporation (LIC), sebuah perusahaan yang menangani penyediaan semen di NZ.

Sedikit berbicara tentang LIC, pada awal berdirinya LIC hanya sebatas Balai Inseminasi Buatan. Namun, saat ini mereka adalah Raksasa Dairy Farming di New Zealand. Bidang Usahanya sampai pada pelayanan Herd Testing (uji kualitas populasi), uji kualitas individu sapi, pelayanan pengujian kualitas susu, pengembangan genetik dan sebagainya. Bahkan setiap tenaga lapangannya memiliki sebuah PDA (Personal Data Assistant) yang disebut DATAMATE yang mampu merekam data setiap sapi di New Zealand yang berada dalam sistem mereka.

Sejak akhir 90-an, LIC mulai mengembangkan Cross Breed Bull yang memenuhi kebutuhan dairy farming di New Zealand dan mulai memperkenalkan pada peternak secara luas pada tahun 2004, mereka menamakannya KIWI CROSS®. Pada tahun pertama tidak banyak peternak menggunakan semen Kiwi Cross® ini, namun pada tahun kedua Kiwi Cross® mulai menjadi pilihan yang menggiurkan. Secara genetik, Kiwi Cross® memiliki karakteristik yang merupakan perpaduan dari breed yang ada di New Zealand, namun kebanyakan Kiwi Cross Bull yang diperkenalkan adalah perpaduan antara FH, Jersey dan Ayrshire serta beberapa hanya antara FH dan Jersey. Pedet yang dihasilkan dari penggunaan Kiwi Cross® ini juga sangat bervariasi tergantung dominasi genetik bull dan cow -nya. Kualitas heifer yang dihasilkan dari penggunaan memang belum teruji, namun kebanyakan mereka memiliki Breeding Worth (BW) yang sangat tinggi. Bahkan Bull yang memiliki BW tertinggi saat ini adalah Kiwi Cross Bull. Oh ya, BW adalah standar nilai yang diberikan oleh sistem peternakan di NZ dan menunjukkan kualitas sapi. Setiap sapi memiliki BW berbeda dan menentukan harga sapi tersebut pada saat dijual. Semakin tinggi BW seekor sapi, semakin tinggi harganya karena semakin baik kualitasnya.

KIWI CROSS® menjadi titik tolak keberanian untuk merubah sesuatu yang dibutuhkan dan ternyata perubahan itulah yang membuat peternakan di New Zealand menjadi primadona serta menjadi farmer (peternak) adalah pekerjaan yang membanggakan. Bisakah kita melakukannya di Indonesia..? (dfk)


 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by