|
Artikel
KIWI
CROSS® - Bukti Inovasi Tiada Henti
Oleh: Deddy F. Kurniawan
Artikel
ini tidak berbicara tentang seekor unggas yang terkenal karena
hampir punah dan sekarang menjadi icon New Zealand, bukan
juga tentang buah yang rasanya mirip dengan markisa. Kita
akan sedikit membahas tentang sejarah inovasi dalam dunia
peternakan khususnya DAIRY FARMING di New Zealand (NZ).

Heifer
hasil Kiwi Cross Bull
Sejarah
dairy farming di New Zealand dimulai lebih dari 100 tahun
yang lalu ketika imigran dari eropa menginjakkan kakinya di
negara yang populasi sapinya 5 kali lipat dibanding total
penduduknya dan populasi dombanya 10 kali lipat dibanding
jumlah manusia yang tinggal di negara ini. Sehingga tidak
heran jika pada saat mendengar kata New Zealand, salah satu
yang kita bayangkan adalah New Zealand Milk karena memang
90% farming product yang dihasilkan negara ini diekspor keseluruh
dunia termasuk Indonesia. Pada saat artikel ini ditulis, dairy
farming New Zealand sudah sampai pada tahap komputerisasi
medis dan individual recording terhadap kualitas setiap sapi
yang dilahirkan. Setiap sapi memiliki ID tag dan dokumen riwayat
hidup sejak dia dilahirkan. Kondisi New Zealand memungkinkan
mereka untuk melakukan sistem peternakan yang sangat efisien.
Dukungan pemerintah dan teknologi mendorong mereka untuk melakukan
sistem peternakan yang lebih maju daripada Indonesia. Saat
ini rata-rata populasi sapi setiap farm berjumlah 250 ekor
dan hanya dikelola oleh satu orang (idealnya, 1 orang mengelola
sekitar 200-300 ekor. Bandingkan dengan Indonesia!).
Bagi
kita di Indonesia, Holstein-Friesian (FH) adalah primadona
breed sapi perah dan mungkin kita tidak pernah berpikir selainnya
meskipun kita tahu FH bukanlah satu-satunya breed sapi perah.
Kita akan sedikit mundur kebelakang ke tahun 60-an dan silahkan
anda membayangkan apa yang terjadi pada saat itu di Indonesia
sedangkan saya akan mengajak anda untuk membayangkan apa yang
terjadi di New Zealand. Pada saat itu Indonesia sedang mengalami
konflik politik yang luar biasa sedang dairy farmer di New
Zealand sudah mengalami kemajuan industri peternakan sapi
perah yang luar biasa pula. FH, Jersey, Ayrshire, Guernsey
dan Milking Shorthorn adalah breed yang digunakan oleh peternak.
FH dan Jersey mendominasi dan peternak cenderung memurnikan
breed itu dengan karakteristiknya, sedangkan persilangan adalah
tabu. Memasuki tahun 70-an, paradigma tentang susu mulai berubah
dan konsumen sudah mengenal milk solid kemudian menuntut kebutuhaan
itu pada peternak.
Masing-masing
breed memiliki karakteristik yang berbeda. FH terkenal dengan
volume produksinya yang besar namun pengalaman di NZ menunjukkan
mereka lebih sering mengalami masalah pada kuku dan kaki karena
ukuran tubuhnya yang besar serta membutuhkan volume pakan
yang juga sangat besar. Jersey memiliki ukuran lebih kecil
sehingga kebutuhan pakan lebih sedikit, volume susu yang dihasilkan
juga lebih kecil namun memiliki milk solid lebih baik dibanding
FH serta memiliki kuku yang lebih kuat. Ayrshire lebih mirip
kepada FH namun tidak sebaik FH. Sedang Guernsey dan Milking
Shorthorn tidak terlalu populer karena tidak mampu memenuhi
selera konsumen. Tuntutan konsumen membuat mereka berpikir
bagaimana mendapatkan figur sapi yang lebih baik yang memenuhi
keinginan konsumen tersebut, maka ide persilanganpun mulai
dilakukan.
Sejak
akhir 70-an dan awal 80-an, persilangan adalah lumrah untuk
mendapat figur sapi dengan karakteristik yang diinginkan.
Hampir setiap peternak melakukan persilangan pada sapinya
meskipun banyak juga yang lebih tertarik untuk tetap memurnikan.
Mereka menginginkan figur sapi yang tidak terlalu besar, tidak
banyak masalah kuku dan kaki (karena mereka harus berjalan
jauh setiap hari dari padang gembalaan menuju tempat pemerahan
dan sebaliknya), milk solid tinggi, mudah dihandle, temperamen
baik dan sebagainya lalu akhirnya sampai hari ini kebanyakan
sapi New Zealand adalah sapi hasil persilangan selama puluhan
tahun tersebut dan dikenal dengan Cross Breed, namun sampai
akhir 90-an pengembangan cross breed baru terbatas pada sapi
betina. Sapi cross breed jantan biasanya mengakhiri perjalanan
hidupnya di atas meja makan kita sebagai steak, soussage,
burger atau produk lainnya. KIWI CROSS® adalah nama yang diberikan
pada Cross Breed Bull yang sedang dikembangkan oleh Livestock
Improvement Corporation (LIC), sebuah
perusahaan yang menangani penyediaan semen di NZ.
Sedikit
berbicara tentang LIC, pada awal berdirinya LIC hanya sebatas
Balai Inseminasi Buatan. Namun, saat ini mereka adalah Raksasa
Dairy Farming di New Zealand. Bidang Usahanya sampai pada
pelayanan Herd Testing (uji kualitas populasi), uji kualitas
individu sapi, pelayanan pengujian kualitas susu, pengembangan
genetik dan sebagainya. Bahkan setiap tenaga lapangannya memiliki
sebuah PDA (Personal Data Assistant) yang disebut DATAMATE
yang mampu merekam data setiap sapi di New Zealand yang berada
dalam sistem mereka.
Sejak
akhir 90-an, LIC mulai mengembangkan Cross Breed Bull yang
memenuhi kebutuhan dairy farming di New Zealand dan mulai
memperkenalkan pada peternak secara luas pada tahun 2004,
mereka menamakannya KIWI CROSS®. Pada tahun pertama tidak
banyak peternak menggunakan semen Kiwi Cross® ini, namun pada
tahun kedua Kiwi Cross® mulai menjadi pilihan yang menggiurkan.
Secara genetik, Kiwi Cross® memiliki karakteristik yang merupakan
perpaduan dari breed yang ada di New Zealand, namun kebanyakan
Kiwi Cross Bull yang diperkenalkan adalah perpaduan antara
FH, Jersey dan Ayrshire serta beberapa hanya antara FH dan
Jersey. Pedet yang dihasilkan dari penggunaan Kiwi Cross®
ini juga sangat bervariasi tergantung dominasi genetik bull
dan cow -nya. Kualitas heifer yang dihasilkan dari penggunaan
memang belum teruji, namun kebanyakan mereka memiliki Breeding
Worth (BW) yang sangat tinggi. Bahkan Bull yang memiliki BW
tertinggi saat ini adalah Kiwi Cross Bull. Oh ya, BW adalah
standar nilai yang diberikan oleh sistem peternakan di NZ
dan menunjukkan kualitas sapi. Setiap sapi memiliki BW berbeda
dan menentukan harga sapi tersebut pada saat dijual. Semakin
tinggi BW seekor sapi, semakin tinggi harganya karena semakin
baik kualitasnya.
KIWI
CROSS® menjadi titik tolak keberanian untuk merubah sesuatu
yang dibutuhkan dan ternyata perubahan itulah yang membuat
peternakan di New Zealand menjadi primadona serta menjadi
farmer (peternak) adalah pekerjaan yang membanggakan.
Bisakah kita melakukannya di Indonesia..? (dfk)
|