|
Artikel

Wabah Flu Burung di Indonesia
Oleh
: Fadjar Wahyudi Soewandi
Pada
tanggal 19 September 2005 Pemerintah Indonesia melalui Depertemen
Kesehatan RI., menyatakan bahwa di Indonesia telah terjadi
KLB (Kejadian Luar Biasa) penyakit flu burung pada manusia.
P engumuman ini menyentakkan banyak pihak, termasuk WHO dan
pemerintah negara negara tetangga, sehingga mereka bertanya
tanya apa sudah begitu gawatkah kondisi penyakit itu di Indonesia?.
Menkes
selanjutnya memberikan penjelasan, bahwa penyakit ini memang
sudah mencapai tahap kritis. Dengan pengumuman KLB tersebut,
jajaran Depkes diharapkan lebih siap mengantisipasi terjadinya
wabah atau epidemi, yaitu serangan penyakit secara serempak
di suatu daerah atau kelompok masyarakat tertentu. Ini berarti
juga mencegah penyebaran virus ke seluruh dunia.
Bagimana
dengan Departemen Pertanian khususnya Ditjen Peternakan? Pada
Januari 2004, pemerintah mengumumkan adanya "kasus" flu burung.
Virus sudah menyebar ke 22 propinsi.
Hari
hari terakhir di bulan Oktober 2005 dunia dibuat panik oleh
virus AI subtype H5N1. Meski sudah 8 tahun berinkubasi di
kawasan Asia Timur, baru pada akhir 2005 virus itu tiba tiba
merebak di Eropa. Berawal dari kawasan Mongolia dan Siberia,
kemudian ke barat menuju Rusia, Ukraina, Kroasia, Turki, Spanyol,
Rumania dan Inggris.
Di
Asia Timur virus tersebut telah menyebabkan kematian lebih
dari 140 juta unggas dan 68 manusia. Di Indonesia sendiri
sudah menimbulkan korban puluhan juta unggas dan 4 orang meninggal
dunia dengan belasan orang dirawat dengan suspect flu burung.
Para ahli meramalkan Afrika akan menjadi sasaran berikutnya
serangan virus flu burung H5N1 yang mematikan. FAO menyatakan
virus tersebut bisa menyebar ke Timur Tengah dan Afrika Timur
dalam hitungan minggu.
Negara-negara
Afrika antara lain Etiopia, Kenya, Uganda, Tanzania, Nigeria
telah melarang impor unggas dari negara yang telah dikonfirmasikan
ada flu burung. FAO lebih mengkhawatirkan penyakit tersebut
masuk ke Afrika karena benua tersebut tidak ada persiapan
sama sekali terhadap serangan flu burung.
Pandemi
flu burung tinggal menunggu waktu, sehingga pada awal Nopember
2005, para pejabat kesehatan dari 21 negara anggota Forum
kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) membahas rencana aksi
guna menghadapi kemungkinan terjadinya pandemi penyakit tersebut
pada manusia. Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan, jika
pandemi flu global terjadi, maka pertumbuhan ekonomi negara
negara Asia benar benar akan terhenti. Terhentinya perekonomian
Asia pada akhirnya akan memicu terjadinya resesi ekonomi dunia
yang cukup parah.
Tim
peneliti Inggris dan Amerika menyatakan pandemi benar benar
akan terjadi dan akan sulit dibendung jika virus H5N1 berhasil
bermutasi sehingga bisa menular dengan mudah antar manusia.
Jika itu terjadi, ibarat lonceng kematian yang ditabuh dan
korbanpun pasti akan jatuh bergelimpangan. Diperkirakan korban
meninggal mencapai 50 - 100 juta manusia, serta yang menderita
sakit akan berlipat dari jumlah tersebut. Australia yang belum
tertular flu burung, akan menutup perbatasannya untuk mencegah
penyebaran virus, akan mengurangi perjalanan antar negara,
akan menunda pertemuan pertemuan publik dalam skala besar
dan akan mengawasi secara ketat para pendatang yang masuk
ke Australia. Sejumlah besar pendatang akan dikarantina untuk
mencegah penularan dan para petugas akan mengecek setiap pendatang
dengan alat pemindai suhu.
PBB
telah memikirkan strategi global guna menghadapi pandemi.
Strategi ini antara lain meliputi kecepatan dalam mendeteksi
virus dan respon yang cepat terhadap penyebaran virus. Pengisolasian
pasien dan layanan kesehatan yang berkualitas, dengan obat
obatan antiviral terhadap 90 persen populasi yang terancam
dapat mengatasi pandemi.
WHO
membagi tingkat kewaspadaan terhadap flu burung dalam enam
level, yaitu:
1. Level pertama Flu burung belum mewabah
2. Level dua Flu burung mewabah pada unggas
3. Level tiga Flu burung menular dari hewan ke manusia
4. Level empat Virus menular antar manusia pada sekelompok
kecil orang
5. Level lima Virus menular antar manusia pada kelompok
yang terlokalisasi
6. Level enam Virus menular antar manusia dalam skala
luas atau telah terjadi pandemi di beberapa negara.
WHO
menyatakan pada saat ini flu burung di Indonesia berada pada
level yang ketiga, yaitu flu burung menular dari hewan ke
manusia. Namun para ahli dunia tetap khawatir terjadinya penularan
virus dari manusia ke manusia, seperti halnya virus flu biasa.
Bila hal itu terjadi, dapatdipastikan bencana pandemi terbesar
di dunia segera dimulai dan Indonesia adalah salah satu Negara
utama yang menjadi sumbu pemicu pandemi global, yang meluluhlantakkan
seluruh dunia hanya dalam hitungan bulan.
Pertanyaan
yang perlu disampaikan kepada Deptan, strategi dan langkah
langkah apa yang telah mereka lakukan untuk mencegah terjadinya
pandemi tersebut? Diakui atau tidak kejadian wabah flu burung
di Indonesia adalah merupakan potret buruk kinerja Deptan.
Bagaimana dengan program vaksinasi 300 juta ayam kampung milik
rakyat pada tahun 2004? Berapa persen capaiannya? Apakah cukup
manjur vaksin itu mencegah flu burung? Kalau tidak tercapai
bagaimana pertanggungjawaban proyek itu ? Bagaimana pula dengan
program surveilans untuk melacak asal virus dan penyebarannya?
Apakah benar hanya 22 propinsi dan 139 kabupaten yang terserang
? Apakah unggas lain dan burung burung liar juga sudah terinfeksi?
Apakah hewan berkaki empat selain babi masih terbebas dari
flu burung? Bagaimana program biosekuriti untuk sektor 3 dan
4? Apa yang telah diperbuat aparat Deptan untuk membantu ternak
rakyat? Mungkin penyuluhan saja belum dilaksanakan dengan
baik, apalagi membantu materialnya. Bagaimana dengan pengawasan
lalu lintas ternak antar kabupaten dan antar propinsi?
Pasti
Deptan bingung menjawabnya, wong ayam dan babi yang
dari Legok Tangerang saja masih lolos keluar ke Jakarta. Bagaimana
dengan program kompensasi bagi peternak yang ayamnya kena
wabah flu burung? Apakah itu tidak sekedar enak di berita
tetapi peternak tetap sengsara? Bagaimana peran Deptan dalam
mengubah perilaku masyarakat yang hidup seatap dengan ternaknya?
Bagaimana membuat program sistem peternakan rakyat ke arah
yang lebih sehat?
Pada
pertengahan Nopember ini Deptan mendapat suntikan dana Rp.
600 milyar dari APBN khusus untuk penanggulangan flu burung,
dana ini belum termasuk hibah dari luar negeri. Mudah mudahan
uang sebanyak itu tepat sasaran, sehingga target Deptan untuk
membebaskan Indonesia dari flu burung benar benar dapat tercapai.
tahun 2008.

Letupan
Zoonosis
Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini banyak penyakit zoonosis
yang mewabah dan menimbulkan korban yang cukup besar pada
hewan dan manusia. Beberapa penyakit tersebut antara lain
: Rabies, Anthrax, Leptospirosis, Toxoplasmosis, Taeniasis,
TBC, DHF, BSE, Nipah virus, Japan encephalitis, Ebola, Sars
dan yang terakhir Flu burung.
Penyakit
tersebut muncul dan berjangkit kembali (reemerging) karena
berbagai faktor yaitu:
1.
Terjadinya degradasi lingkungan karena ulah manusia
2. Industrialisasi yang tidak terkontrol
3. Meningkatnya perjalanan dan mudahnya transportasi internasional
(termasuk jemaah haji)
4. Pertumbuhan perdagangan (termasuk perdagangan hewan) dan
perekonomian
5. Perpindahan penduduk dan pariwisata
6. Urbanisasi yang tidak terkendali
7. Penggunaan obat obatan dan insektisida yang tidak rasional
8. Kemiskinan
9. Bencana alam dan
10. Perang
Untuk
mengatasi serangan berbagai penyakit tersebut dibutuhkan profesionalisme,
kepemimpinan yang handal, kejujuran dan kerja keras tak mengenal
lelah. Dibutuhkan pemimpin yang dapat berfikir secara
global sekaligus dapat mengatasi masalah dengan tindakan yang
bersifat lokal. Dibutuhkan basic data awal paling tidak 5
tahun terakhir, untuk menganalisis perkembangan penyakit.
Dibutuhkan pembangunan perangkat sistem sebagai indikator
peringatan dini. Dibutuhkan pendidikan dan pelatihan untuk
menyiapkan dan pengembangan SDM. Dibutuhkan pengadaan dan
pemeliharaan alat peralatan dan perbekalan. Dibutuhkan penyiapan
pedoman dan petunjuk pelaksanaan. Dibutuhkan pula riset yang
mudah dilakukan dan aplikabel.
Mungkin
memang sudah waktunya, di Indonesia dibentuk wadah yang mempunyai
otoritas dalam mengatur segala masalah yang berkaitan dengan
veteriner/kesehatan hewan. Badan yang bisa lincah berkoordinasi,
tidak birokratis dan yang lebih penting lagi bebas KKN.
Kita
tidak membutuhkan politikus yang hanya pandai berbicara tetapi
tidak bisa bekerja. Kita tidak membutuhkan pemimpin yang bisanya
hanya membagi bagi proyek untuk kepentingan diri sendiri dan
kelompoknya. Kita tidak membutuhkan petugas yang kerjanya
hanya membuat laporan fiktif belaka. Kita tidak membutuhkan
manusia yang suka dan pintar mengatasnamakan rakyat untuk
meraup keuntungan sebanyak banyaknya Kalau kinerja para Ahli
Peternakan dan Dokter Hewan Indonesia hanya seperti itu, menjadi
tidak aneh kalau kita akan semakin tersingkirkan dimasa yang
akan datang.
Bagaimana,
siapkah Deptan? Kalau tidak siap ada saran yang cukup bagus,
untuk mengatasi wabah flu burung dan wabah wabah yang lain,
serahkan saja ke Lembaga Internasional, semua akan beres dan
kita tinggal menontonnya. Bagaimana para sejawat Dokter Hewan
?
Drh.
Fadjar Wahyudi Soewandi, M.Kes.
Letnan Kolonel CKM Akmil Magelang
|