Edisi 007
Januari 2006

Artikel Utama
Wabah Flu Burung di Indonesia

Kiwi Cross

Virgin Coconut Oil

Mycoplasma synovie

Profil
Drh. Iman Setyowati Koesrinaldiati

Drh. Nemu Hermawan


Serbet (seputar berita terkini)
PPUN dan Asia Livestock 2005


Opini
Isu CLQ apanya Virus AI?

Konsultasi
Myasis pada Anjing

Bogel Lahirkan Anak ke Dua

Kolom PIDHI
Dana Sosial KDHI


Seri Continuing Education
Toxoplasmosis

Dari anda
Love Your Job


Artikel



Wabah Flu Burung di Indonesia
Oleh : Fadjar Wahyudi Soewandi

Pada tanggal 19 September 2005 Pemerintah Indonesia melalui Depertemen Kesehatan RI., menyatakan bahwa di Indonesia telah terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) penyakit flu burung pada manusia. P engumuman ini menyentakkan banyak pihak, termasuk WHO dan pemerintah negara negara tetangga, sehingga mereka bertanya tanya apa sudah begitu gawatkah kondisi penyakit itu di Indonesia?.

Menkes selanjutnya memberikan penjelasan, bahwa penyakit ini memang sudah mencapai tahap kritis. Dengan pengumuman KLB tersebut, jajaran Depkes diharapkan lebih siap mengantisipasi terjadinya wabah atau epidemi, yaitu serangan penyakit secara serempak di suatu daerah atau kelompok masyarakat tertentu. Ini berarti juga mencegah penyebaran virus ke seluruh dunia.

Bagimana dengan Departemen Pertanian khususnya Ditjen Peternakan? Pada Januari 2004, pemerintah mengumumkan adanya "kasus" flu burung. Virus sudah menyebar ke 22 propinsi.

Hari hari terakhir di bulan Oktober 2005 dunia dibuat panik oleh virus AI subtype H5N1. Meski sudah 8 tahun berinkubasi di kawasan Asia Timur, baru pada akhir 2005 virus itu tiba tiba merebak di Eropa. Berawal dari kawasan Mongolia dan Siberia, kemudian ke barat menuju Rusia, Ukraina, Kroasia, Turki, Spanyol, Rumania dan Inggris.

Di Asia Timur virus tersebut telah menyebabkan kematian lebih dari 140 juta unggas dan 68 manusia. Di Indonesia sendiri sudah menimbulkan korban puluhan juta unggas dan 4 orang meninggal dunia dengan belasan orang dirawat dengan suspect flu burung. Para ahli meramalkan Afrika akan menjadi sasaran berikutnya serangan virus flu burung H5N1 yang mematikan. FAO menyatakan virus tersebut bisa menyebar ke Timur Tengah dan Afrika Timur dalam hitungan minggu.

Negara-negara Afrika antara lain Etiopia, Kenya, Uganda, Tanzania, Nigeria telah melarang impor unggas dari negara yang telah dikonfirmasikan ada flu burung. FAO lebih mengkhawatirkan penyakit tersebut masuk ke Afrika karena benua tersebut tidak ada persiapan sama sekali terhadap serangan flu burung.

Pandemi flu burung tinggal menunggu waktu, sehingga pada awal Nopember 2005, para pejabat kesehatan dari 21 negara anggota Forum kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) membahas rencana aksi guna menghadapi kemungkinan terjadinya pandemi penyakit tersebut pada manusia. Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan, jika pandemi flu global terjadi, maka pertumbuhan ekonomi negara negara Asia benar benar akan terhenti. Terhentinya perekonomian Asia pada akhirnya akan memicu terjadinya resesi ekonomi dunia yang cukup parah.

Tim peneliti Inggris dan Amerika menyatakan pandemi benar benar akan terjadi dan akan sulit dibendung jika virus H5N1 berhasil bermutasi sehingga bisa menular dengan mudah antar manusia. Jika itu terjadi, ibarat lonceng kematian yang ditabuh dan korbanpun pasti akan jatuh bergelimpangan. Diperkirakan korban meninggal mencapai 50 - 100 juta manusia, serta yang menderita sakit akan berlipat dari jumlah tersebut. Australia yang belum tertular flu burung, akan menutup perbatasannya untuk mencegah penyebaran virus, akan mengurangi perjalanan antar negara, akan menunda pertemuan pertemuan publik dalam skala besar dan akan mengawasi secara ketat para pendatang yang masuk ke Australia. Sejumlah besar pendatang akan dikarantina untuk mencegah penularan dan para petugas akan mengecek setiap pendatang dengan alat pemindai suhu.

PBB telah memikirkan strategi global guna menghadapi pandemi. Strategi ini antara lain meliputi kecepatan dalam mendeteksi virus dan respon yang cepat terhadap penyebaran virus. Pengisolasian pasien dan layanan kesehatan yang berkualitas, dengan obat obatan antiviral terhadap 90 persen populasi yang terancam dapat mengatasi pandemi.

WHO membagi tingkat kewaspadaan terhadap flu burung dalam enam level, yaitu:
1. Level pertama Flu burung belum mewabah
2. Level dua Flu burung mewabah pada unggas
3. Level tiga Flu burung menular dari hewan ke manusia
4. Level empat Virus menular antar manusia pada sekelompok kecil orang
5. Level lima Virus menular antar manusia pada kelompok yang terlokalisasi
6. Level enam Virus menular antar manusia dalam skala luas atau telah terjadi pandemi di beberapa negara.

WHO menyatakan pada saat ini flu burung di Indonesia berada pada level yang ketiga, yaitu flu burung menular dari hewan ke manusia. Namun para ahli dunia tetap khawatir terjadinya penularan virus dari manusia ke manusia, seperti halnya virus flu biasa. Bila hal itu terjadi, dapatdipastikan bencana pandemi terbesar di dunia segera dimulai dan Indonesia adalah salah satu Negara utama yang menjadi sumbu pemicu pandemi global, yang meluluhlantakkan seluruh dunia hanya dalam hitungan bulan.

Pertanyaan yang perlu disampaikan kepada Deptan, strategi dan langkah langkah apa yang telah mereka lakukan untuk mencegah terjadinya pandemi tersebut? Diakui atau tidak kejadian wabah flu burung di Indonesia adalah merupakan potret buruk kinerja Deptan. Bagaimana dengan program vaksinasi 300 juta ayam kampung milik rakyat pada tahun 2004? Berapa persen capaiannya? Apakah cukup manjur vaksin itu mencegah flu burung? Kalau tidak tercapai bagaimana pertanggungjawaban proyek itu ? Bagaimana pula dengan program surveilans untuk melacak asal virus dan penyebarannya? Apakah benar hanya 22 propinsi dan 139 kabupaten yang terserang ? Apakah unggas lain dan burung burung liar juga sudah terinfeksi? Apakah hewan berkaki empat selain babi masih terbebas dari flu burung? Bagaimana program biosekuriti untuk sektor 3 dan 4? Apa yang telah diperbuat aparat Deptan untuk membantu ternak rakyat? Mungkin penyuluhan saja belum dilaksanakan dengan baik, apalagi membantu materialnya. Bagaimana dengan pengawasan lalu lintas ternak antar kabupaten dan antar propinsi?

Pasti Deptan bingung menjawabnya, wong ayam dan babi yang dari Legok Tangerang saja masih lolos keluar ke Jakarta. Bagaimana dengan program kompensasi bagi peternak yang ayamnya kena wabah flu burung? Apakah itu tidak sekedar enak di berita tetapi peternak tetap sengsara? Bagaimana peran Deptan dalam mengubah perilaku masyarakat yang hidup seatap dengan ternaknya? Bagaimana membuat program sistem peternakan rakyat ke arah yang lebih sehat?

Pada pertengahan Nopember ini Deptan mendapat suntikan dana Rp. 600 milyar dari APBN khusus untuk penanggulangan flu burung, dana ini belum termasuk hibah dari luar negeri. Mudah mudahan uang sebanyak itu tepat sasaran, sehingga target Deptan untuk membebaskan Indonesia dari flu burung benar benar dapat tercapai. tahun 2008.

Letupan Zoonosis
Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini banyak penyakit zoonosis yang mewabah dan menimbulkan korban yang cukup besar pada hewan dan manusia. Beberapa penyakit tersebut antara lain : Rabies, Anthrax, Leptospirosis, Toxoplasmosis, Taeniasis, TBC, DHF, BSE, Nipah virus, Japan encephalitis, Ebola, Sars dan yang terakhir Flu burung.

Penyakit tersebut muncul dan berjangkit kembali (reemerging) karena berbagai faktor yaitu:
1. Terjadinya degradasi lingkungan karena ulah manusia
2. Industrialisasi yang tidak terkontrol
3. Meningkatnya perjalanan dan mudahnya transportasi internasional (termasuk jemaah haji)
4. Pertumbuhan perdagangan (termasuk perdagangan hewan) dan perekonomian
5. Perpindahan penduduk dan pariwisata
6. Urbanisasi yang tidak terkendali
7. Penggunaan obat obatan dan insektisida yang tidak rasional
8. Kemiskinan
9. Bencana alam dan
10. Perang

Untuk mengatasi serangan berbagai penyakit tersebut dibutuhkan profesionalisme, kepemimpinan yang handal, kejujuran dan kerja keras tak mengenal lelah. Dibutuhkan pemimpin yang dapat berfikir secara global sekaligus dapat mengatasi masalah dengan tindakan yang bersifat lokal. Dibutuhkan basic data awal paling tidak 5 tahun terakhir, untuk menganalisis perkembangan penyakit. Dibutuhkan pembangunan perangkat sistem sebagai indikator peringatan dini. Dibutuhkan pendidikan dan pelatihan untuk menyiapkan dan pengembangan SDM. Dibutuhkan pengadaan dan pemeliharaan alat peralatan dan perbekalan. Dibutuhkan penyiapan pedoman dan petunjuk pelaksanaan. Dibutuhkan pula riset yang mudah dilakukan dan aplikabel.

Mungkin memang sudah waktunya, di Indonesia dibentuk wadah yang mempunyai otoritas dalam mengatur segala masalah yang berkaitan dengan veteriner/kesehatan hewan. Badan yang bisa lincah berkoordinasi, tidak birokratis dan yang lebih penting lagi bebas KKN.

Kita tidak membutuhkan politikus yang hanya pandai berbicara tetapi tidak bisa bekerja. Kita tidak membutuhkan pemimpin yang bisanya hanya membagi bagi proyek untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Kita tidak membutuhkan petugas yang kerjanya hanya membuat laporan fiktif belaka. Kita tidak membutuhkan manusia yang suka dan pintar mengatasnamakan rakyat untuk meraup keuntungan sebanyak banyaknya Kalau kinerja para Ahli Peternakan dan Dokter Hewan Indonesia hanya seperti itu, menjadi tidak aneh kalau kita akan semakin tersingkirkan dimasa yang akan datang.

Bagaimana, siapkah Deptan? Kalau tidak siap ada saran yang cukup bagus, untuk mengatasi wabah flu burung dan wabah wabah yang lain, serahkan saja ke Lembaga Internasional, semua akan beres dan kita tinggal menontonnya. Bagaimana para sejawat Dokter Hewan ?

Drh. Fadjar Wahyudi Soewandi, M.Kes.
Letnan Kolonel CKM Akmil Magelang

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by