Edisi 007
Januari 2006

Artikel Utama
Wabah Flu Burung di Indonesia

Kiwi Cross

Virgin Coconut Oil

Mycoplasma synovie

Profil
Drh. Iman Setyowati Koesrinaldiati

Drh. Nemu Hermawan


Serbet (seputar berita terkini)
PPUN dan Asia Livestock 2005


Opini
Isu CLQ apanya Virus AI?

Konsultasi
Myasis pada Anjing

Bogel Lahirkan Anak ke Dua

Kolom PIDHI
Dana Sosial KDHI


Seri Continuing Education
Toxoplasmosis

Dari anda
Love Your Job

Artikel

Isu CLQ, Apanya Virus AI?
Oleh: Abdus Salim
Staff Jurusan Penyuluhan Peternakan - STPP Malang

Dunia ternak perunggasan di Indonesia patut cemas. Kalau Virus Flu burung (AI) mulai mewabah sampai ke daerah-daerah di pelosok tanah air. Tetapi lebih tragis lagi jika isu paha ayam import (Chicken Leg Quarter - CLQ) dari Amerika dibiarkan masuk dan beredar bebas dengan harga murah di pasar-pasar lokal. Bayangkan saja hanya dengan uang 30 sen US$ atau Rp 6.500 kita sudah dapat membeli 1 kg daging paha ayam. Sementara di pasar lokal saja harga daging paha ayam Rp. 14.000/kg. Bila melihat dari satu sisi ini, barangkali impor paha ayam itu jalan pintas yang benar. Namun dalam jangka panjang, produk pilihan kedua di AS tersebut dapat memukul usaha perunggasan di Indonesia yang baru bangkit dari krisis bertubi-tubi.

Kalau CLQ dibiarkan masuk maka hancurlah agroindustri ayam kita. Memang dalam jangka pendek kita akan dapatkan harga daging ayam yang murah. Tapi sesudah itu industri ayam kita hancur, tidak lagi bisa menghasilkan ayam dalam negeri, maka permintaan akan CLQ membesar, selanjutnya harga CLQ pun naik. Jadi, kalau dikatakan import CLQ untuk membantu konsumen, itu hanya jangka pendek. Oleh karena itu dari segi kepentingan nasional daging ayam itu harus kita suplai dari dalam negeri.

Kronologis
Sebenarnya ada apa di balik isu CLQ ? CLQ pertamakali masuk ke tanah air pada tahun 1998 melalui pameran "Pasar Rakyat" di Monas Jakarta. Saat itu import paha ayam di dukung oleh pemerintah dengan dalih untuk memperoleh daging ayam murah bagi rakyat. Harga CLQ hanya 20% dari harga daging dada. Bila dijual di Jakarta, harganya sekitar Rp. 6500/kg, termasuk ongkos kirimnya dari Amerika. Ekspor produk ayam AS yang volumenya tahun silam mencapai 2,163 juta ton, 60% lebih berupa CLQ. Tujuan utamanya Rusia, Jepang, China, Arab Saudi, dan beberapa negara Eropa. Tahun ini volume ekspornya diprediksi akan naik hingga 2,279 juta ton (AGRINA, 2005).

Indonesia tak luput dari incaran AS karena negara kita berpenduduk terbesar keempat didunia dan tingkat konsumsi ayamnya masih sangat rendah, hanya sekitar 4 kg/kapita/tahun. AS sendiri tahun ini diperhitungkan bakal mencapai 45,5 kg/kapita/tahun. Pasar mengaga inilah yang digarap dengan berbagai strategi.

Apa dampak CLQ?
Sementara itu, dengan berhitung dampak import bagi industri dalam negeri, pemerintah Indonesia sejak tahun 2000 hanya membolehkan impor ayam utuh, termasuk dari AS. Jadi, CLQ tidak diizinkan masuk. Apalagi banyak pihak mempertanyakan kehalalan dari produk CLQ tersebut. Pasalnya dari ribuan rumah potong ayam disana sangat sedikit yang memproduksi produk halal. Salah satunya, Marjac-Poultry di negara Georgia. Kalaupun membuat produk halal, hanya beberapa hari sekali, seperti Perdue Fram yang pernah memenuhi pesanan halal seminggu sekali. Dilomasi dagang As ini sangat kuat, tidak melihat nilainya berapa, tetapi selalu memperhatikan kepentingan raknyatnya. Kalau bicara CLQ yang 30 sen US$/kg itu, maka 800.000 ton yang mau dipasarkan ke Indonesia nilainya hanya US$240 juta. Produk ini bisa dikatakan sebagai limbah karena mayoritas konsumen Amerika memilih bagian dada. Konsumen AS lebih menyukai daging dada ketimbang daging paha (chicken leg quarter - CLQ). Produsen ayam disana lalu menerapkan subsidi silang dengan mengenakan harga dada berlipat. Sebaliknya, membanting harga CLQ sampai termurah didunia. (lihat tabel). Harga Produk Ayam di Berbagai Negara (dalam rupiah per kg).

Berbagai pendekatan sampai kini dilakukan pihak pengusaha Amerika untuk menerobos masuk kembali. Mulai dari lobi melalui pemerintah, pengusaha, asosiasi, sampai mengundang wartaman Indonesia mengunjungi rumah pemotongan ayam disana untuk meyakinkan bahwa paha ayamnya layak diekspor dan dikonsumsi di Indonesia. Jadi terbukti, Amerika Serikat mengupayakan segala cara untuk melempar produk paha ayamnya ke seluruh dunia lantaran kelebihan dan kurang disukai konsumen domestik.

Oleh karena itu kalau Bush mau memperjuangkan rakyatnya untuk jumlah yang kecil itu, semestinya pemerintah kita lebih fight untuk jumlah sangat besar yang terkena pada kita. Kalau kita tidak mampu melakukannya, maka CLQ akan menjadi virus baru yang lebih ganas dari Flu burung (AI). Butuh kerja keras untuk membasminya...!!!


 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by