|
Artikel
Isu
CLQ, Apanya Virus AI?
Oleh: Abdus Salim
Staff Jurusan Penyuluhan Peternakan - STPP Malang
Dunia
ternak perunggasan di Indonesia patut cemas. Kalau Virus Flu
burung (AI) mulai mewabah sampai ke daerah-daerah di pelosok
tanah air. Tetapi lebih tragis lagi jika isu paha ayam import
(Chicken Leg Quarter - CLQ) dari Amerika dibiarkan masuk dan
beredar bebas dengan harga murah di pasar-pasar lokal. Bayangkan
saja hanya dengan uang 30 sen US$ atau Rp 6.500 kita sudah
dapat membeli 1 kg daging paha ayam. Sementara di pasar lokal
saja harga daging paha ayam Rp. 14.000/kg. Bila melihat dari
satu sisi ini, barangkali impor paha ayam itu jalan pintas
yang benar. Namun dalam jangka panjang, produk pilihan kedua
di AS tersebut dapat memukul usaha perunggasan di Indonesia
yang baru bangkit dari krisis bertubi-tubi.
Kalau
CLQ dibiarkan masuk maka hancurlah agroindustri ayam kita.
Memang dalam jangka pendek kita akan dapatkan harga daging
ayam yang murah. Tapi sesudah itu industri ayam kita hancur,
tidak lagi bisa menghasilkan ayam dalam negeri, maka permintaan
akan CLQ membesar, selanjutnya harga CLQ pun naik. Jadi, kalau
dikatakan import CLQ untuk membantu konsumen, itu hanya jangka
pendek. Oleh karena itu dari segi kepentingan nasional daging
ayam itu harus kita suplai dari dalam negeri.
Kronologis
Sebenarnya ada apa di balik isu CLQ ? CLQ pertamakali masuk
ke tanah air pada tahun 1998 melalui pameran "Pasar Rakyat"
di Monas Jakarta. Saat itu import paha ayam di dukung oleh
pemerintah dengan dalih untuk memperoleh daging ayam murah
bagi rakyat. Harga CLQ hanya 20% dari harga daging dada. Bila
dijual di Jakarta, harganya sekitar Rp. 6500/kg, termasuk
ongkos kirimnya dari Amerika. Ekspor produk ayam AS yang volumenya
tahun silam mencapai 2,163 juta ton, 60% lebih berupa CLQ.
Tujuan utamanya Rusia, Jepang, China, Arab Saudi, dan beberapa
negara Eropa. Tahun ini volume ekspornya diprediksi akan naik
hingga 2,279 juta ton (AGRINA, 2005).
Indonesia
tak luput dari incaran AS karena negara kita berpenduduk terbesar
keempat didunia dan tingkat konsumsi ayamnya masih sangat
rendah, hanya sekitar 4 kg/kapita/tahun. AS sendiri tahun
ini diperhitungkan bakal mencapai 45,5 kg/kapita/tahun. Pasar
mengaga inilah yang digarap dengan berbagai strategi.
Apa
dampak CLQ?
Sementara itu, dengan berhitung dampak import bagi industri
dalam negeri, pemerintah Indonesia sejak tahun 2000 hanya
membolehkan impor ayam utuh, termasuk dari AS. Jadi, CLQ tidak
diizinkan masuk. Apalagi banyak pihak mempertanyakan kehalalan
dari produk CLQ tersebut. Pasalnya dari ribuan rumah potong
ayam disana sangat sedikit yang memproduksi produk halal.
Salah satunya, Marjac-Poultry di negara Georgia. Kalaupun
membuat produk halal, hanya beberapa hari sekali, seperti
Perdue Fram yang pernah memenuhi pesanan halal seminggu sekali.
Dilomasi dagang As ini sangat kuat, tidak melihat nilainya
berapa, tetapi selalu memperhatikan kepentingan raknyatnya.
Kalau bicara CLQ yang 30 sen US$/kg itu, maka 800.000 ton
yang mau dipasarkan ke Indonesia nilainya hanya US$240 juta.
Produk ini bisa dikatakan sebagai limbah karena mayoritas
konsumen Amerika memilih bagian dada. Konsumen AS lebih menyukai
daging dada ketimbang daging paha (chicken leg quarter - CLQ).
Produsen ayam disana lalu menerapkan subsidi silang dengan
mengenakan harga dada berlipat. Sebaliknya, membanting harga
CLQ sampai termurah didunia. (lihat tabel). Harga Produk Ayam
di Berbagai Negara (dalam rupiah per kg).

Berbagai
pendekatan sampai kini dilakukan pihak pengusaha Amerika untuk
menerobos masuk kembali. Mulai dari lobi melalui pemerintah,
pengusaha, asosiasi, sampai mengundang wartaman Indonesia
mengunjungi rumah pemotongan ayam disana untuk meyakinkan
bahwa paha ayamnya layak diekspor dan dikonsumsi di Indonesia.
Jadi terbukti, Amerika Serikat mengupayakan segala cara untuk
melempar produk paha ayamnya ke seluruh dunia lantaran kelebihan
dan kurang disukai konsumen domestik.
Oleh
karena itu kalau Bush mau memperjuangkan rakyatnya untuk jumlah
yang kecil itu, semestinya pemerintah kita lebih fight untuk
jumlah sangat besar yang terkena pada kita. Kalau kita tidak
mampu melakukannya, maka CLQ akan menjadi virus baru yang
lebih ganas dari Flu burung (AI). Butuh kerja keras untuk
membasminya...!!!
|