|
Profil
Drh.
Martha Sri Wilujeng
Jeli, Teliti, dan Tak Tertandingi

Drh. Martha Sri Wilujeng
Tenang.
Tidak banyak kata yang diucapkan, hanya setiap kata yang keluar
pasti telah tersaring dan diolah dengan cermat di benaknya.
Itulah sosok seorang ibu muda yang telah dikaruniai 2 orang
putra yang kini duduk di bangku SD. Di rumahnya yang cantik
bernuansa hijau segar di kawasan elit sebuah perumahan di
Malang, ibu yang lahir tanggal 22 November 1967 ini menerima
redaksi dengan ramah dan hangat.
Ya,
ia dikenal dengan nama panggilan Martha, yang nama lengkapnya
Martha Sri Wilujeng, alumnus FKH Unair 1992, memulai karirnya
sebagai technical service di sebuah perusahaan obat di Malang.
Pernikahannya dengan sesama dokter hewan pada tanggal 28 Agustus
1993, mengharuskan beliau mengikuti pekerjaan suami pindah
ke kota Blitar.
Kelahiran
buah hati pertama - Taufan Perdana Putra - tahun 1994, menuntut
beliau mengambil cuti panjang dan akhirnya keluar dari perusahaan
tersebut. Tidak suka dengan hanya diam di rumah, beliaupun
menerima penawaran kerja perusahaan obat di mana sang suami
berkarir. Ditempatkannya beliau sebagai tenaga laboratorium
dan dipercayai sebagai financial person, memberikan ilmu yang
sampai saat ini diyakini banyak membantu kesuksesan bisnis
yang digelutinya sekarang.
Keputusan
revolusioner diambil pada tahun 1997 untuk keluar dari kemapanan
sebagai karyawan dan memulai berjuang sendiri dari dasar -
tanpa modal, menjadikan usaha sejoli ini tangguh dan tak tertandingi
hingga kini. Awalnya, perkerjaan serabutan seperti jual beli
ayam afkiran, menjual eceran pakan ayam dan burung, serta
mengecer telur, dikerjakan sendiri dengan gigih tanpa kenal
lelah. Disiplin dalam keuangan dan fokus pada jenis usaha
inilah yang memantapkan beliau membuka sebuah poultry shop
sederhana di rumah kontrakan mereka di Srengat, belahan barat
kabupaten Blitar yang hingga kini masih ditempatinya.
Dengan
mobil pick-up yang dibeli dari simpanan semasa menjadi karyawan
dan karena kepercayaan rekan usaha, beliau dapat semakin kencang
menjalankan usahanya. Apalagi berkat kejeliannya saat krisis
moneter melanda negeri ini, banyak peluang yang diambil untuk
melebarkan usahanya.
DOC
yang pada masa itu harganya sangat fluktuatif, mampu memberikan
hasil bersih 50-60 juta perbulan selama setahun kedalam pundi
poultry shop yang baru dirintisnya. Keuntungan itu tidak pernah
dipakainya selama setahun dan hanya dipinjam untuk memutarkan
usaha.
Kerja
keras, kejelian, kedisiplinan dan pantang menyerah menjadikan
ibu muda ini dan tentu dengan suami tercinta meraih kesuksesan
yang fantastis. Sekarang poultry shop yang menyediakan sarana
dan prasarana kesehatan ternak utamanya unggas dan ikan dengan
nama "Satwa Unggul" ini, telah benar-benar unggul dan melebarkan
sayapnya. Dengan 8 outlet dan 100 orang karyawan yang mereka
miliki mampu memberikan omset 6 miliar rupiah per bulan. Sebuah
angka yang cukup mencengangkan bukan?
Ditanya
tentang keunggulan poultry shop-nya, beliau yang mempunya
prinsip hidup seperti air mengalir ini, hanya menjawab ringan:
"Kami memberikan after sale service pada pelanggan". Di setiap
outlet disediakan 2 tenaga D3 peternakan yang selalu siap
terjun langsung ke lapangan bila peternak mengalami kesulitan,
secara cuma-cuma.
Kendati
demikian, kenyamanan ini tidak membuat karirnya berhenti,
saat ini beliau masih merintis sebuah PT Aves yang bergerak
dibidang pembuatan obat, terutama multivitamin untuk ayam.
Sementara ijin masih dalam proses, produk hanya dikonsumsi
untuk kalangan plasma saja.
Dengan
kesibukannya yang cukup padat, putri keempat dari 6 bersaudara
ini tidak menampik tawaran dari almamaternya untuk menjadi
dosen luar biasa mahasiswa D3 FKH Unair yang menjalankan PKL
di daerahnya. Bahkan mendapatkan surat pengangkatan rektor
yang diperbaharui setiap semester.
Dengan
segudang kesibukan ini, tidaklah menyurutkan hobi beliau untuk
membaca dan melakukan travelling dalam dan luar negeri. Sebagian
benua Eropa dan seluruh negara Asean telah dijelajahinya bersama
suami sebagai reward dari perusahaan perusahaan pakan ternak.
Ibu
yang mencintai kedua putranya ini sangat menikmati kewajibannya
dan mencurahkan perhatian penuh pada keluarga, meski hari-harinya
sangat padat. Setiap pagi beliau masih menyempatkan mengantar
sekolah dan mejadi guru di rumah ketika putra-putranya membutuhkannya.
Segala kegiatan di luar rumah ditampiknya, bila ada jadwal
ujian yang harus ditempuh sang putra untuk menjadi penyemangat
yang jitu bagi buah hati. Selain itu, disela-sela sempitnya
waktu, beliau masih menyempatkan menjadi treasurer alias bendahara
PDHI Jatim II.
Satu
hal yang masih menjadi obsesinya sejak muda, mempunyai pet
shop. Bukan hanya sekedar pet shop, tetapi one stop shopping.
Klinik, grooming, konsultasi dll, dapat diperoleh pelanggan
dalam pet shop itu. Keinginan itu sangat didukung sang suami,
dan malah ingin mendirikan - kalau dapat - disetiap kota besar
di Jawa ini.
Sebuah
kalimat cantik yang meluncur tulus dari Drh. Agus - suami
drh Martha - ketika ditanya tentang belahan jiwanya ini, "Kekurangan
saya ada pada istri saya". Artinya, "Saya gasnya dan dia rem
saya". Indah bukan keserasian ini?
Inilah
sebuah keberhasilan besar yang tak tertandingi, ketika segala
sesuatunya dikerjakan dengan sungguh-sungguh, cermat, dan
penuh tanggung jawab. (Liz,May)
|