Edisi 005
April 2005

Artikel Utama
Pendidikan Tinggi Kedokteran Hewan di Indonesia, Masih Adakah Taringnya?


Profil
Drh. Elizabeth Magdalena Plasman

Drh. Martha Sri Wilujeng

Drh. Herliantien, M.P.

Press Release DEPTAN
Perkembangan Penanggulangan Wabah Avian Influenza

Konsultasi
Vaksinasi Pada Anjing


Seri Continuing Education
Hip Displasia Pada Anjing dan Feline Urologic Syndrome Pada Kucing

Dari anda
Resolusi 2005, Keep On Clubbing!

Profil

Drh. Martha Sri Wilujeng
Jeli, Teliti, dan Tak Tertandingi


Drh. Martha Sri Wilujeng

Tenang. Tidak banyak kata yang diucapkan, hanya setiap kata yang keluar pasti telah tersaring dan diolah dengan cermat di benaknya. Itulah sosok seorang ibu muda yang telah dikaruniai 2 orang putra yang kini duduk di bangku SD. Di rumahnya yang cantik bernuansa hijau segar di kawasan elit sebuah perumahan di Malang, ibu yang lahir tanggal 22 November 1967 ini menerima redaksi dengan ramah dan hangat.

Ya, ia dikenal dengan nama panggilan Martha, yang nama lengkapnya Martha Sri Wilujeng, alumnus FKH Unair 1992, memulai karirnya sebagai technical service di sebuah perusahaan obat di Malang. Pernikahannya dengan sesama dokter hewan pada tanggal 28 Agustus 1993, mengharuskan beliau mengikuti pekerjaan suami pindah ke kota Blitar.

Kelahiran buah hati pertama - Taufan Perdana Putra - tahun 1994, menuntut beliau mengambil cuti panjang dan akhirnya keluar dari perusahaan tersebut. Tidak suka dengan hanya diam di rumah, beliaupun menerima penawaran kerja perusahaan obat di mana sang suami berkarir. Ditempatkannya beliau sebagai tenaga laboratorium dan dipercayai sebagai financial person, memberikan ilmu yang sampai saat ini diyakini banyak membantu kesuksesan bisnis yang digelutinya sekarang.

Keputusan revolusioner diambil pada tahun 1997 untuk keluar dari kemapanan sebagai karyawan dan memulai berjuang sendiri dari dasar - tanpa modal, menjadikan usaha sejoli ini tangguh dan tak tertandingi hingga kini. Awalnya, perkerjaan serabutan seperti jual beli ayam afkiran, menjual eceran pakan ayam dan burung, serta mengecer telur, dikerjakan sendiri dengan gigih tanpa kenal lelah. Disiplin dalam keuangan dan fokus pada jenis usaha inilah yang memantapkan beliau membuka sebuah poultry shop sederhana di rumah kontrakan mereka di Srengat, belahan barat kabupaten Blitar yang hingga kini masih ditempatinya.

Dengan mobil pick-up yang dibeli dari simpanan semasa menjadi karyawan dan karena kepercayaan rekan usaha, beliau dapat semakin kencang menjalankan usahanya. Apalagi berkat kejeliannya saat krisis moneter melanda negeri ini, banyak peluang yang diambil untuk melebarkan usahanya.

DOC yang pada masa itu harganya sangat fluktuatif, mampu memberikan hasil bersih 50-60 juta perbulan selama setahun kedalam pundi poultry shop yang baru dirintisnya. Keuntungan itu tidak pernah dipakainya selama setahun dan hanya dipinjam untuk memutarkan usaha.

Kerja keras, kejelian, kedisiplinan dan pantang menyerah menjadikan ibu muda ini dan tentu dengan suami tercinta meraih kesuksesan yang fantastis. Sekarang poultry shop yang menyediakan sarana dan prasarana kesehatan ternak utamanya unggas dan ikan dengan nama "Satwa Unggul" ini, telah benar-benar unggul dan melebarkan sayapnya. Dengan 8 outlet dan 100 orang karyawan yang mereka miliki mampu memberikan omset 6 miliar rupiah per bulan. Sebuah angka yang cukup mencengangkan bukan?

Ditanya tentang keunggulan poultry shop-nya, beliau yang mempunya prinsip hidup seperti air mengalir ini, hanya menjawab ringan: "Kami memberikan after sale service pada pelanggan". Di setiap outlet disediakan 2 tenaga D3 peternakan yang selalu siap terjun langsung ke lapangan bila peternak mengalami kesulitan, secara cuma-cuma.

Kendati demikian, kenyamanan ini tidak membuat karirnya berhenti, saat ini beliau masih merintis sebuah PT Aves yang bergerak dibidang pembuatan obat, terutama multivitamin untuk ayam. Sementara ijin masih dalam proses, produk hanya dikonsumsi untuk kalangan plasma saja.

Dengan kesibukannya yang cukup padat, putri keempat dari 6 bersaudara ini tidak menampik tawaran dari almamaternya untuk menjadi dosen luar biasa mahasiswa D3 FKH Unair yang menjalankan PKL di daerahnya. Bahkan mendapatkan surat pengangkatan rektor yang diperbaharui setiap semester.

Dengan segudang kesibukan ini, tidaklah menyurutkan hobi beliau untuk membaca dan melakukan travelling dalam dan luar negeri. Sebagian benua Eropa dan seluruh negara Asean telah dijelajahinya bersama suami sebagai reward dari perusahaan perusahaan pakan ternak.

Ibu yang mencintai kedua putranya ini sangat menikmati kewajibannya dan mencurahkan perhatian penuh pada keluarga, meski hari-harinya sangat padat. Setiap pagi beliau masih menyempatkan mengantar sekolah dan mejadi guru di rumah ketika putra-putranya membutuhkannya. Segala kegiatan di luar rumah ditampiknya, bila ada jadwal ujian yang harus ditempuh sang putra untuk menjadi penyemangat yang jitu bagi buah hati. Selain itu, disela-sela sempitnya waktu, beliau masih menyempatkan menjadi treasurer alias bendahara PDHI Jatim II.

Satu hal yang masih menjadi obsesinya sejak muda, mempunyai pet shop. Bukan hanya sekedar pet shop, tetapi one stop shopping. Klinik, grooming, konsultasi dll, dapat diperoleh pelanggan dalam pet shop itu. Keinginan itu sangat didukung sang suami, dan malah ingin mendirikan - kalau dapat - disetiap kota besar di Jawa ini.

Sebuah kalimat cantik yang meluncur tulus dari Drh. Agus - suami drh Martha - ketika ditanya tentang belahan jiwanya ini, "Kekurangan saya ada pada istri saya". Artinya, "Saya gasnya dan dia rem saya". Indah bukan keserasian ini?

Inilah sebuah keberhasilan besar yang tak tertandingi, ketika segala sesuatunya dikerjakan dengan sungguh-sungguh, cermat, dan penuh tanggung jawab. (Liz,May)

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by