|
Profil
Drh.
H. Triwiyono
Dokter Hewan Pengusaha

Drh.
H. Triwiyono
Ketika
beberapa reporter koran PDHI datang ke peternakan sapi perahnya,
boleh jadi orang tidak akan menyangka bahwa beliau adalah
seorang pengusaha sukses, yang biasanya selalu berpakaian
rapi, berdasi dan hanya dapat memerintah anak buah. Sebaliknya
"boss" yang bertubuh tinggi tegap ini kelihatan sangat sederhana,
menggunakan celana pendek dan T shirt, hampir tak berbeda
dengan petugas-petugas kandangnya. Delapan orang tukang kandang
sibuk memberikan pakan pada + 140 ekor sapi yang ada di kandang
tersebut, sedangkan sang bos mengawasi dengan cermat tiap
ekor sapinya yang sedang diberi pakan.
Farm
yang kami kunjungi merupakan salah satu dari tiga farm miliknya,
yang masing-masing terpisah lokasinya. Mula-mula kami diajak
berkeliling farm tersebut dan beliau menjelaskan segala seluk-beluk
tentang sapi perah peliharaannya. Terlihat sekali bahwa beliau
sangat hafal dengan semua sapinya. Juga dijelaskan apa dan
berapa jumlah pakan yang diberikan, penyakit, cara pencegahan
dan penanggulangannya. Setelah puas mengelilingi farm maka
kami diajak untuk duduk di ruang tamu salah satu rumahnya
yang berlokasi di farm tersebut. "Ini sebenarnya tempat menginap
orang-orang kandang," katanya tentang rumah yang cukup mewah
tersebut. (Rumah tempat tinggalnya jauh lebih besar dan lebih
mewah, terletak kira-kira lima ratus meter dari rumah pertama).
"Seorang
pemimpin harus mau terjun kebawah, merasakan secara langsung
apa yang dikerjakan oleh bawahannya" begitu kilah warga Bendosari,
kecamatan Sanan Kulon kabupaten Blitar ini memulai pembicaraan.
Semula, tahun 1983, sapi yang dimilikinya hanya 2 ekor, saat
ini jumlahnya telah mencapai + 250 ekor tersebar di tiga lokasi
farm yang berbeda. Tentunya ini bukan suatu jumlah yang sedikit.
Ditanya tentang kunci suksesnya beternak sapi perah,"Kerja
keras dan tekuni profesi dengan baik, rejeki sudah ada yang
mengatur!" begitu katanya singkat.
Perlu
diketahui bahwa selain sebagai pengusaha sapi perah beliau
juga adalah ketua Koperasi Serba Usaha Jaya Abadi (KSU Jaya
Abadi), Blitar. Saat ini produksi susu yang dihasilkan oleh
KSU yang dipimpinnya mencapai 40 ton/hari dan dipasarkan ke
Industri Pengolahan Susu (IPS) di Jawa Timur dan Jakarta.
Beberapa koperasi susu di Jawa Timur agak khawatir dengan
perkembangan KSU Jaya Abadi,sebab koperasi ini terus mengembangkan
sayap membeli susu dari daerah sekitarnya dengan harga yang
menarik sehingga banyak peternak yang berpindah menjadi anggota
KSU Jaya Abadi.
Tentang
kiat sukses pengelolaan koperasinya, beliau mengatakan bahwa
koperasinya dikelola sesuai dengan manajemen PT (Perseroan
Terbatas) dimana koperasi hanya bertugas membeli susu para
peternak tanpa melakukan pemotongan apapun misalnya untuk
simpanan wajib, sukarela dsb, sebagai layaknya sebuah koperasi
karena potongan-potongan tersebut pada akhirnya tidak semua
dikembalikan kepada peternak, sehingga peternak jelas dirugikan
Di KSU Jaya Abadi hubungan peternak dan koperasi lebih banyak
sebagai hubungan antara plasma dengan perusahaan inti. Namun
harga susu yang diperoleh peternak ditentukan bersama sehingga
peternak menerima harga susu yang wajar. Kewajaran ini diharapkan
bisa merangsang peternak untuk memelihara sapinya dengan lebih
baik sehingga produksi susunya akan meningkat. Masih menurut
Pak Tri, begitu sang bos akrab dipanggil, selama ini banyak
koperasi susu tidak dikelola secara profesional. Harga susu
ditetapkan oleh KUD tanpa melibatkan anggota dalam menentukan
harga. Sehingga hal ini selalu menimbulkan konflik internal
di dalam koperasi tersebut karena peternak merasa tidak puas.
Selain
usaha susu, KSU Jaya Abadi juga memiliki pabrik pakan ternak
yang memproduksi + 600 ton konsentrat/bulan. Koperasi juga
mendiversifikasikan usahanya di bidang penjualan Cooling Unit
Susu, pembibitan sapi perah dan penjualan obat hewan. Bibit
sapi yang dihasilkan telah dipasarkan ke Jawa Barat, Jawa
Tengah, serta keluar pulau Jawa bahkan saat ini Balai Pembibitan
Sapi Perah di Baturaden (Jawa Tengah) memesan bibit sapi dari
beliau karena kualitas bibit sapinya memang lebih baik. Selain
itu ia memiliki dua buah kapal pengangkut batubara yang dioperasikan
di pulau Kalimantan.
Ketika
ditanya soal keuntungan bisnis susunya, Pak Tri hanya tersenyumsambil
mengatakan, "Omzet koperasi ini dari penjualan susu saja kurang
lebih hanya sebesar 2 milyar per bulan" katanya merendah.
Pembaca dapat menghitung sendiri pendapatan Pak Tri selama
sebulan atau setahun, hanya dari bisnis susu.
Selanjutnya
kami diajak mengunjugi pabrik pakan ternak yang terletak di
lokasi lain. Terlihat sekali bahwa dokter hewan yang sejak
kecil senang dengan hewan ini (menurutnya waktu kecil beliau
sering tidur bersama ayam peliharaannya!) sangat menguasai
teknis penyusunan formula konsentrat yang diproduksinya. Di
luar kepala beliau hafal sekali tentang susunan konsentrat,
kualitas bahan baku berikut harganya.
Ditanya
pendapatnya tentang PDHI dan profesi dokter hewan, beliau
menyarankan agar PDHI dikelola secara profesional sebagai
satu badan usaha yang bergerak dibidang bisnis, misalnya bisnis
jasa keuangan, pakan ternak, bisnis produk perternakan atau
jenis bisnis lainnya. Karena hanya dengan itulah PDHI bisa
eksis dan mandiri. Sedangkan tentang profesi, menurut pak
Tri, setiap dokter hewan memiliki potensi didalam dirinya
sendiri. Namun profesi tersebut tidak akan muncul bila tidak
ada motivasi. Diharapkan PDHI dapat menjadi ajang tempat berkumpul
untuk mengembangkan potensi dan motivasi tersebut.
Pria
alumnus Universitas Airlangga tahun 1987 ini beristrikan Drh.
Heni Agustiningsih yang juga lulusan Unair tahun 1990. Keluarga
yang berbahagia ini dikaruniai 3 orang putra-putri yaitu Muhamad
Satrio Wibowo (15 Th), Chorry Pujiastuti (13 Th), dan Isa
Ahmad Raharjo (10 Th). Drh. Heni sangat berperan dalam pengembangan
sistem manajemen koperasi, bisnis obat-obatan dan usaha konsentrat
sapi perah. Beliau adalah putri dari Bpk. H. Subagiyo yang
pada masanya adalah Ketua KUD Setia Kawan Nongkojajar dan
Pengurus GKSI Korda Jawa Timur yang berdedikasi tinggi terhadap
perkembangan persusuan di Jawa Timur khususnya dan di Indonesia
pada umumnya. Selamat dan selalu sukses untuk Drh Triwiyono
dan Drh Heni. (May)
|