|
Dari
Anda
Secerdas
Apakah Kita Sebenarnya?
Oleh: Drh. Deddy F. Kurniawan
Berbagai
fenomena itu…
Ternyata banyak diantara kita yang masih belum memanfa'atkan
kecerdasan kita sebagaimana mestinya. Masih banyak diantara
kita merasa sudah cukup puas dengan bekal amal yang kita miliki
sekarang dan ironisnya hal itu kita lakukan ketika kita selama
ini-secara tidak terperkirakan-melakukan banyak sekali kesalahan
perencanaan dan pelaksanaan kehidupan diri kita. Banyak diantara
kita -dengan sangat mengesankan- ternyata menjadi investor
kesalahan dan hal itu terjadi ketika kita merasa kita adalah
manusia dengan berbagai kebaikan.
Kita
akan mengadakan pembahasan pertama pada permasalahan pemanfa'atan
investasi waktu yang telah 'dipinjamkan' oleh Alloh kepada
kita. Katakanlah kita hidup selama sehari semalam selama 24
jam dan dengan asumsi kita akan diberikan bonus kehidupan
dunia selama 60 tahun (rata-rata manusia). Kemudian kita akan
mengadakan perenungan bagaimana ternyata selama ini kita mengadakan
pemanfa'atan investasi umur tersebut melalui gambar dibawah
ini. Kita akan membagi aktifitas kita menjadi beberapa bagian.

Nah,
sekarang mari kita merenungkan kembali aktivitas kehidupan
kita. Setiap kita ingin menjadi manusia beruntung dengan berbagai
investasi kebaikan kita, namun mari kita lihat kembali apakah
kita ukup layak mendapat kebaikan tersebut. Gambar diatas
menggambarkan -secara umum- bagaimana kita memanfa'atkan waktu
yang kita miliki sekarang ini. Silahkan anda perhatikan baris
yang diberi warna berbeda, yaitu baris nomor 4, ibadah. Kalau
katakanlah kita melakukan ibadah dalam sehari semalam selama
1 jam dengan baik, khusyuk dan memenuhi syarat serta rukunnya,
maka selama 1 jam itulah yang akan menjadi investasi kebaikan
kita dan ternyata dalam keseluruhan kehidupan kita, ibadah
ini hanya menempati 4,1 persen dalam kehidupan kita. Pertanyaan
selanjutnya adalah, bagaimana dengan 95,9 persen lainya ?
kemana 57,5 tahun lainnya? Sangat tergantung pada kita bagaimana
kita akan menilai dan memaknainya.
Bayangkan
seandainya ternyata 95.9 % dari kehidupan kita ternyata tidak
bernilai kebaikan…bayangkan seandainya 95.9 % kehidupan kita
membuat kita menjadi manusia paling merugi hanya dikarenakan
kita tidak mampu menciptakan perencanaan kehidupan dan loyalitas
diri untuk menggagas prestasi sebagai bekal kehidupan setelah
dunia ini? Ketika kita mengisinya dengan berbagai kebaikan,
maka semua akan bernilai kebaikan dan akan berakibat sebaliknya
jika kita tidak mampu atau -bahkan- tidak mau menjadikannya
bernilai kebaikan. Adalah sebuah kebodohan yang amat sangat
jika kita tidak memanfa'atkan semua ini dengan berbagai aktifitas
yang mengarahkannya pada rahmat dan keberkahan.
Demi
Waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh
dan nasehat menasehati untuk mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati
untuk menetapi kesabaran.
Maka,
bangkitkan diri anda. Semangatkan diri untuk mengambil berbagai
peluang kebaikan dan tampillah menjadi pribadi prestatif dengan
segudang prestasi dalam perspektif kebaikan.
Seberapa
cerdaskah kita?
Tingkat kecerdasan seseorang tidak hanya diukur prestasi akademik,
namun yang lebih mewakili adalah bagaimana dia mampu mencetak
prestasi dalam setiap aktifitasnya. Bagi kita kecerdasan barangkali
merupakan tingkat kemampuan otak dalam berpikir, padahal sebenarnya
kecerdasan adalah serangkaian pola aktivitas penerjemahan
bahasa-bahasa pikiran, hati dan qolbu dalam bahasa-bahasa
lisan, tulisan dan aktivitas fisik tubuh. Maka, kecerdasan
adalah tingkat kemampuan setiap diri untuk:
1. Menerima informasi
2. Menganalisa informasi
3. Meyakini kebenaran informasi setelah dianalisa
4. Mengaplikasikan keyakinannya dalam aktivitasnya
5. Membuat orang lain seyakin dirinya dan berbuat seperti
dirinya atau lebih
Nah,
sedikit contoh bagi anda barangkali tentang ajaran agama anda.
Pertanyaan
pertama, sudahkan anda mampu menerima informasi dari pembawanya
dengan baik ? apakah anda telah rutin mempelajarinya? berapa
kali kita menyediakan waktu dalam sehari untuk mengkajinya?
Pertanyaan
kedua, sudahkan anda mau dan mampu menganalisa informasi
dari tersebut dengan baik ? sudahkah kita berpikir tentang
ajaran kebaikannya? dan sudahkah kita mengkaji dan mendalami
maknanya ?
Pertanyaan
ketiga, sudahkah kita meyakini kebenaran ajaran tersebut
? sudahkah kita beruaha untuk mengadakan perenungan? dan sudahkah
kita berusaha untuk memaksa diri kita untuk menambah keyakinan
pada semua itu ?
Pertanyaan
keempat, setelah itu kita lakukan, sudahkah kita melakukan
keyakikan itu dalam kehidupan keseharian kita ? sudahkahkah
kita mempraktekkan apa dalam setiap aktivitas kita ? sudahkah
kita berusaha memaknai syukur dengan memanfa'atkan-Nya ini
sesuai yang diinginkan-Nya?
Pertanyaan
kelima, sudahkah kita berusaha membuat keluarga kita meyakini
kebenaran ajaran tersebut? sudahkah kita mengajak saudara-saudara
kita untuk melakukan kebaikan sebagaimana ajaran tersebut?
sudahkah kita berusaha melakukan kampanye untuk kembali pada
aturan yang sudah kita yakini kebenarannya itu?
Nah,
kelima pertanyaan pada satu obyek tersebut hanya anda yang
dapat menjawab sesuai apa yang ada pada diri anda. Kemudian
saya pikir kita perlu bertanya pada diri kita sendiri, sudah
cerdaskah saya ? Setiap kita tidak menginginkan kegagalan,
dan bahkan sebenarnya setiap kita tidak diperkenankan gagal,
seandainya kita gagal, faktor terbesar yang -ternyata- mempengaruhinya
adalah diri kita sendiri. Prestasi berlawanan dengan kegagalan,
prestasi tidak menghendaki kegagalan, namun kegagalan adalah
media untuk berprestasi.
Satu-satunya
cara terbaik untuk memulai melakukan perbaikan adalah… memulainya!
|