Edisi 003

Artikel Utama
Dokter Hewan yang Bisnisman atau Bisnisman yang Dokter Hewan?

Profil
Drh. H. Triwiyono

Sains
Sekilas Tentang Animal Welfare

Jangan Memelihara atau Memperdagangkan Satwa Dilindungi

Dari Anda
Secerdas apakah kita sebenarnya?

Edisi 003

Artikel Utama
Dokter Hewan yang Bisnisman atau Bisnisman yang Dokter Hewan?

Sekilas Tentang Animal Welfare

Jangan Memelihara atau Memperdagangkan Satwa Dilindungi

Dari Anda
Secerdas apakah kita sebenarnya?

Dari Anda

Secerdas Apakah Kita Sebenarnya?
Oleh: Drh. Deddy F. Kurniawan

Berbagai fenomena itu…
Ternyata banyak diantara kita yang masih belum memanfa'atkan kecerdasan kita sebagaimana mestinya. Masih banyak diantara kita merasa sudah cukup puas dengan bekal amal yang kita miliki sekarang dan ironisnya hal itu kita lakukan ketika kita selama ini-secara tidak terperkirakan-melakukan banyak sekali kesalahan perencanaan dan pelaksanaan kehidupan diri kita. Banyak diantara kita -dengan sangat mengesankan- ternyata menjadi investor kesalahan dan hal itu terjadi ketika kita merasa kita adalah manusia dengan berbagai kebaikan.

Kita akan mengadakan pembahasan pertama pada permasalahan pemanfa'atan investasi waktu yang telah 'dipinjamkan' oleh Alloh kepada kita. Katakanlah kita hidup selama sehari semalam selama 24 jam dan dengan asumsi kita akan diberikan bonus kehidupan dunia selama 60 tahun (rata-rata manusia). Kemudian kita akan mengadakan perenungan bagaimana ternyata selama ini kita mengadakan pemanfa'atan investasi umur tersebut melalui gambar dibawah ini. Kita akan membagi aktifitas kita menjadi beberapa bagian.

Nah, sekarang mari kita merenungkan kembali aktivitas kehidupan kita. Setiap kita ingin menjadi manusia beruntung dengan berbagai investasi kebaikan kita, namun mari kita lihat kembali apakah kita ukup layak mendapat kebaikan tersebut. Gambar diatas menggambarkan -secara umum- bagaimana kita memanfa'atkan waktu yang kita miliki sekarang ini. Silahkan anda perhatikan baris yang diberi warna berbeda, yaitu baris nomor 4, ibadah. Kalau katakanlah kita melakukan ibadah dalam sehari semalam selama 1 jam dengan baik, khusyuk dan memenuhi syarat serta rukunnya, maka selama 1 jam itulah yang akan menjadi investasi kebaikan kita dan ternyata dalam keseluruhan kehidupan kita, ibadah ini hanya menempati 4,1 persen dalam kehidupan kita. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana dengan 95,9 persen lainya ? kemana 57,5 tahun lainnya? Sangat tergantung pada kita bagaimana kita akan menilai dan memaknainya.

Bayangkan seandainya ternyata 95.9 % dari kehidupan kita ternyata tidak bernilai kebaikan…bayangkan seandainya 95.9 % kehidupan kita membuat kita menjadi manusia paling merugi hanya dikarenakan kita tidak mampu menciptakan perencanaan kehidupan dan loyalitas diri untuk menggagas prestasi sebagai bekal kehidupan setelah dunia ini? Ketika kita mengisinya dengan berbagai kebaikan, maka semua akan bernilai kebaikan dan akan berakibat sebaliknya jika kita tidak mampu atau -bahkan- tidak mau menjadikannya bernilai kebaikan. Adalah sebuah kebodohan yang amat sangat jika kita tidak memanfa'atkan semua ini dengan berbagai aktifitas yang mengarahkannya pada rahmat dan keberkahan.

Demi Waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat menasehati untuk mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati untuk menetapi kesabaran.

Maka, bangkitkan diri anda. Semangatkan diri untuk mengambil berbagai peluang kebaikan dan tampillah menjadi pribadi prestatif dengan segudang prestasi dalam perspektif kebaikan.

Seberapa cerdaskah kita?
Tingkat kecerdasan seseorang tidak hanya diukur prestasi akademik, namun yang lebih mewakili adalah bagaimana dia mampu mencetak prestasi dalam setiap aktifitasnya. Bagi kita kecerdasan barangkali merupakan tingkat kemampuan otak dalam berpikir, padahal sebenarnya kecerdasan adalah serangkaian pola aktivitas penerjemahan bahasa-bahasa pikiran, hati dan qolbu dalam bahasa-bahasa lisan, tulisan dan aktivitas fisik tubuh. Maka, kecerdasan adalah tingkat kemampuan setiap diri untuk:
1. Menerima informasi
2. Menganalisa informasi
3. Meyakini kebenaran informasi setelah dianalisa
4. Mengaplikasikan keyakinannya dalam aktivitasnya
5. Membuat orang lain seyakin dirinya dan berbuat seperti dirinya atau lebih

Nah, sedikit contoh bagi anda barangkali tentang ajaran agama anda.

Pertanyaan pertama, sudahkan anda mampu menerima informasi dari pembawanya dengan baik ? apakah anda telah rutin mempelajarinya? berapa kali kita menyediakan waktu dalam sehari untuk mengkajinya?

Pertanyaan kedua, sudahkan anda mau dan mampu menganalisa informasi dari tersebut dengan baik ? sudahkah kita berpikir tentang ajaran kebaikannya? dan sudahkah kita mengkaji dan mendalami maknanya ?

Pertanyaan ketiga, sudahkah kita meyakini kebenaran ajaran tersebut ? sudahkah kita beruaha untuk mengadakan perenungan? dan sudahkah kita berusaha untuk memaksa diri kita untuk menambah keyakinan pada semua itu ?

Pertanyaan keempat, setelah itu kita lakukan, sudahkah kita melakukan keyakikan itu dalam kehidupan keseharian kita ? sudahkahkah kita mempraktekkan apa dalam setiap aktivitas kita ? sudahkah kita berusaha memaknai syukur dengan memanfa'atkan-Nya ini sesuai yang diinginkan-Nya?

Pertanyaan kelima, sudahkah kita berusaha membuat keluarga kita meyakini kebenaran ajaran tersebut? sudahkah kita mengajak saudara-saudara kita untuk melakukan kebaikan sebagaimana ajaran tersebut? sudahkah kita berusaha melakukan kampanye untuk kembali pada aturan yang sudah kita yakini kebenarannya itu?

Nah, kelima pertanyaan pada satu obyek tersebut hanya anda yang dapat menjawab sesuai apa yang ada pada diri anda. Kemudian saya pikir kita perlu bertanya pada diri kita sendiri, sudah cerdaskah saya ? Setiap kita tidak menginginkan kegagalan, dan bahkan sebenarnya setiap kita tidak diperkenankan gagal, seandainya kita gagal, faktor terbesar yang -ternyata- mempengaruhinya adalah diri kita sendiri. Prestasi berlawanan dengan kegagalan, prestasi tidak menghendaki kegagalan, namun kegagalan adalah media untuk berprestasi.

Satu-satunya cara terbaik untuk memulai melakukan perbaikan adalah… memulainya!

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by