|
B R A I N D R A I N

Oleh:
Drh. Deddy F. Kurniawan
Klinik Hewan Suropati, Batu - Jawa Timur
deddyfk@yahoo.com
Omne Vivum Ex Ovo
Salah satu ciri khas profesi medis adalah kemampuan untuk membuat keputusan pada saat situasi kritis. Seringkali keputusan harus dibuat dalam keadaan yang mendadak dan tidak terencana. Pada saat inilah keahlian dan kemampuan sebagai Dokter Hewan untuk memahami situasi kondisi dibutuhkan untuk berani mengambil keputusan cepat dan tepat.
Kami baru saja melakukan operasi Sectio Caesaria pada sapi FH (Friessian Holstein)kelahiran pertama (first calving). Operasi Sectio Caesaria adalah hal biasa bagi Dokter Hewan, namun kami mendapat pelajaran sangat berharga dari kasus ini. Kami mendapat pelajaran sangat penting bahwa keahlian medis seorang Dokter Hewan mutlak harus diimbangi dengan keberanian mengambil keputusan dalam kondisi kritis. Begini kronologis ceritanya.
Pertama kali kami menangani sapi ini adalah ketika kami mendapat laporan dari penjaga kandang bahwa sapi dalam kondisi bunting sekitar 9 bulan, ambruk selama 2 hari, tidak mau makan sejak ambruk namun masih mau minum. Seperti biasa, kami melakukan anamnesa untuk mengarahkan diagnosa. Dari anamnesa, kami mendapatkan bahwa sapi sudah diketahui mengeluarkan kotoran berdarah bercampur lendir sejak 4 minggu sebelum sapi ambruk. Sebelumnya sapi pernah mendapatkan penanganan dan pengobatan dari petugas lain pada saat diketahui terdapat feses berdarah namun pengobatan tidak berlanjut hingga sapi ditemukan ambruk. Pakan yang diberikan adalah rumput gajah kering yang dipotong-potong (chooped) dan bekatul yang pemberiannya dicampur air (kombor).
Pada saat kami datang, kami mendapati sapi berada dalam kondisi tidak bagus ( BCS-Body Condition Score 2,1), feses keras berwarna gelap dan bercampur lendir serta terdapat sedikit darah bersama feses, suhu rektal 39 celsius, turgor kulit jelek. Kami mendapati sebuah bak karet berisi air minum di samping sapi. Lantai kandang terbuat dari lapisan semen yang menurut kami model lantai seperti ini tidak nyaman untuk sapi yang dalam kondisi ambruk karena terlalu keras licin. Kondisi jantung normal, regular, pernafasan normal, bersih, gerakan rumen 1 kali/2 menit. Kami melakukan palpasi perektal untuk memastikan kebuntingan dan mendapatkan pedet masih hidup. Kami mencoba melakukan rangsangan kejutan listrik menggunakan electricity prodder untuk menguji respon syaraf daerah kaki belakang karena kaki ini yang menjadi tumpuan utama ketika berdiri.
Dari serangkaian pemeriksaan, kami menyimpulkan sapi ini mengalami malnutrisi kronis yang mengakibatkan kelemahan secara umum dan dehidrasi lalu kamipun melakukan tindakan standar untuk kasus malnutrisi disertai penambahan preparat glukosa dan kalsium, pemberian antibiotik kami lakukan selama 2 hari berturut-turut dan kami mencoba merangsang syaraf kaki belakang dengan electricity prodder. Percobaan beberapa kali akhirnya berhasil membuat sapi berdiri (meski dengan sempoyongan) dan bersama petugas kandang, kamipun memapah sapi untuk keluar dari kandang untuk kami tempatkan di tempat yang lebih nyaman dan tidak keras (kami memilih untuk menempatkan sapi di atas tanah). Penanganan kami hentikan pada hari ke-2 karena pada hari ke-3 penanganan dilakukan oleh petugas lain yang ditunjuk oleh manajer farm.
Pada hari ke-8, kami kembali mendapat panggilan dari petugas kandang yang melaporkan bahwa sapinya masih ambruk. Kali ini kami berpikir keadaan menjadi kritis karena ini berarti sapi sudah ambruk selama 10 hari dan kondisi ini akan dapat mengakibatkan paraplegia bahkan paralisa. Hal utama yang membuat kami berpikir ini kondisi kritis adalah karena sapi dalam keadaan bunting tua dan akan segera melahirkan. Malnutrisi kronis akan membuat proses kelahiran menjadi sangat beresiko, bahkan mungkin sapi tidak akan mampu melahirkan secara normal karena kelemahan umum. Resiko berikutnya adalah adalah efek komplikasi pasca melahirkan seperti retensi plasenta, metritis, mastitis bahkan LDA (Left Displaced Abomasum) atau bahkan kematian.
Kami datang dan menemukan sapi sedang dalam proses melahirkan. Kaki pedet sudah terlihat keluar melalui vulva namun induk tidak terlihat merejan. Kami memutuskan untuk membantu kelahiran dengan menarik pedet. Penarikan ternyata tidak membuahkan hasil dan sayapun melakukan palpasi pervaginal untuk observasi. Saya menemukan bahwa ukuran lubang pelvis induk lebih kecil dari pada ukuran tengkorak pedet yang besar (belum lagi ditambah kaki dan bahu pedet), saya berkesimpulan bahwa pedet tidak mungkin keluar melalui lubang kelahiran normal meski dilatasi otot kelahiran sudah maksimal. Saya meminta kolega Dokter Hewan “Klinik Hewan SUROPATI” lain yang bersama saya untuk melakukan observasi dan memastikan diagnosa saya. Setelah melakukan observasi palpasi pervaginal, kolega tersebut berkesimpulan sama dengan saya dan tindakan yang kami rekomendasikan adalah operasi Caesar karena pedet masih hidup. Saya pun menyampaikan kepada petugas kandang hasil temuan dan diagnosa serta rekomendasi kami. Petugas kandang segera menghubungi manajer farm melalui telepon yang pada saat itu sedang tidak berada di lokasi kandang.
Melalui telepon, manajer farm pada awalnya melarang saya untuk melakukan operasi Caesar (karena resikonya besar --saya memaklumi kekhawatiran itu) dan meminta saya memberikan hormon untuk membantu kelahiran kemudian menarik pedetnya (alasan beliau, belajar dari sapi potong lokal, meski mendapat semen IB (Inseminasi Buatan) pejantan yang besar, tetap bisa melahirkan dengan memberikan hormon). Diskusi kami melalui telepon tersebut cukup panjang, namun dalam hati saya (sebagai Dokter Hewan) berpikir, saya harus membuat keputusan cepat dalam kondisi kritis seperti ini, keterlambatan mengambil keputusan bisa berakibat fatal. Menurut saya, pemberian hormon tidak akan membantu karena permasalahan bukanlah sekedar disfungsi hormonal (atau dilatasi otot) dan kelemahan induk secara umum, namun tulang pelvis yang tidak berkembang baik (karena malnutrisi kronis) yang akibatnya, meskipun induk mampu merejan dengan baik, tetap proses kelahiran akan tetap terhambat karena lubang pelvis lebih kecil dari ukuran kepala pedet. Kamipun mencoba menuruti permintaan manajer farm dengan mencoba sekali lagi untuk menarik, namun tidak berhasil.
Akhirnya saya meminta petugas kandang untuk menghubungi manajer farm kembali dan saya sampaikan bahwa satu-satunya alternatif dalam situasi ini adalah operasi Caesar. Alasan saya, induk sudah sangat lemah setelah 10 hari ambruk, prognosa saya untuk induknya adalah infausta. Pedet masih hidup dan operasi Caesar berpeluang besar untuk mendapatkan pedet dalam keadaan hidup. Pada awalnya manajer farm meminta untuk dilakukan fetotomy karena menurut beliau lebih baik menyelamatkan induk daripada menyelamatkan pedet. Saya menyampaikan bahwa tindakan itu justru akan menambah resiko baik induk (kondisi induk yang sangat lemah menambah resiko infeksi sekunder dan efek samping lainnya ) maupun pedet (tentu saja dengan fetotomy artinya pedet sengaja dimatikan).
Akhirnya setelah saya jelaskan, manajer farm setuju dilakukan operasi Caesar. Kemudian operasi caesarpun kami lakukan dengan lancar, pedet betina dapat terselamatkan. Induk masih mampu bertahan hidup dalam kondisi sangat lemah hingga hari ke-4 post operasi dan penanganan kamiberhenti sampai hari ke-4 post operasi tersebut karena pada hari ke-5 post operasi, manajer farm memutuskan untuk memindah induk ke farm rehabilitasi (untuk penanganan lebih lanjut). Pada hari ke-10 post operasi, induk mati di farm rehabilitasi.
Kasus ini memberi pelajaran penting bagi kami tentan kebranian mengambil keputusan dan kemampuan menjelaskan ke klien tentang situas dan kondisi yang sedang dihadapi. Keputusan yang kami buat pada saat itu berlangsung sangat cepat dan akhirnya memberikan hasil – yang menurut kami- cukup baik. Jika pada saat itu keputusannya adalah fetotomy, maka pedet betina tidak akan terselamatkan dan induk akan terus melemah. Jika kami memaksakan untuk menarik pedet dan memaksa pedet untuk lahir melalui lubang pelvis, tentu saja tidak akan berhasil dan akhirnya pedetpun mati (karena tengkoraknya bisa remuk) sedang induk masih tetap dalam kondisi lemah.
Nah, disinilah uniknya karena Dokter Hewan dituntut untuk melakukan tindakan penyelamatan dalam situasi yang dilematis. Petugas kandang (yang mengetahui kondisi aktual lapangan) tidak berposisi sebagai orang yang dapat memberikan keputusan, sedang pengambil keputusan (manajer farm) tidak memahami kondisi aktual lapangan karena tidak melihat langsung situasi dan akhirnya Dokter Hewan terlibat dalam diskusi yang cukup alot. Disinilah akhirnya saya merasakan betapa pentingnya kepercayan diri untuk berani mengambil keputusan yang kita yakini dan menjelaskan (termasuk mempengaruhi klien) akan rekomendasi (yang sebenarnya adalah keputusan) yang kita sarankan. Kasus ini bukan hanya masalah ketrampilan melakukan operasi Caesar , namun lebih bagaimana kita meyakinkan klien bahwa kita adalah orang yang tepat untuk melakukan pekerjaan ini.
Keahlian melakukan Operasi Caesar bukan hal yang istimewa karena pada akhirnya sebagai Dokter Hewan, jika kita berprofesi sebagai praktisi medis veteriner (bukankah memang itulah yang seharusnya dikerjakan Dokter Hewan???), suatu saat kita akan melakukan tindakan ini, hanya masalah waktu.
Inilah pelajaran pentingnya, BERIKAN PEKERJAAN KEPADA AHLINYA. Menurut saya, orang yang tepat untuk melakukan tindakan medis veteriner adalah Dokter Hewan, bukan yang lain. Namun selama ini banyak pekerjaan medis veteriner dikerjakan oleh selain Dokter Hewan. Akibatnya, banyak hal yang terbengkalai bahkan rusak karena situasi tersebut. Kualitas kesehatan veteriner dan langkah strategis menjadi menurun karena banyak dikerjakan oleh yang bukan ahlinya atau diputuskan bukan berdasarkan temuan riil.
Ironisnya, kita harus mengakui bahwa kita -Dokter Hewan- masih belum menganggap ini penting. Kita masih lebih mengutamakan birokrasi dan administrasi dari pada tindakan riil. Kita masih lebih suka mengerjakan bidang lain (yang mungkin lebih indah, lebih bersih dan lebih leghe artis) daripada mengerjakan bidang kita sendiri. Menukil kata-kata salah satu guru saya, sampai kapanpun, gelar Dokter Hewan akan tetap menyertai nama kita. Apapun profesi tambahan yang kita kerjakan, jangan pernah meninggalkan habitat utama kita. Kebesaran anda nantinya, salah satunya berawal karena awalnya anda adalah seorang DOKTER HEWAN. Ibarat Gajah (yang sangat besar itu), pasti berasal dari sebuah sel telur. OMNE VIVUM EX OVO. Wallohualam...
|